Selasa, 18 Juni 2013

Diplomat Indonesia Jadi Sasaran Penyadapan Inggris?

Intelijen Inggris dilaporkan telah menyadap percakapan telepon dan riwayat email para delegasi pada pertemuan G20, 2009 lalu. Ternyata ini bukan kali pertama Inggris melakukan penyadapan para utusan asing.


Hal ini diberitakan laman The Guardian awal pekan ini. Dalam sebuah artikelnya, Guardian mengatakan bahwa praktik ini sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh Inggris semata, tapi kebanyakan negara tuan rumah.

Inilah yang menyebabkan beberapa Kedubes di ibukota sebuah negara memiliki ruangan khusus tanpa jendela untuk menghindari penyadapan.

Kasus penyadapan oleh intelijen Inggris M15 yang paling terkenal terjadi tahun 1985. Seorang pejabat M15 Peter Wright mengungkapkan kala itu bahwa M15 telah menyadap seluruh konferensi para diplomat asing di gedung pertemuan Lancaster House antara tahun 1950an sampai 1960an, selama perang dingin.


Penyadapan juga dilakukan oleh Inggris pada negosiasi kemerdekaan Zimbabwe tahun 1979. Inggris sempat menanggung malu saat upaya mata-mata mereka terhadap kapal perang Soviet yang ditumpangi pemimpin Soviet Nikita Khrushchev terbongkar.

Saat itu, M15 memerintahkan "Buster" Crabbe, mantan anggota pasukan katak angkatan laut Inggris untuk menyelam dan menyelidiki jenis baling-baling kapal canggih di kapal perang Soviet tersebut saat sandar di pelabuhan Portsmouth.

Namun kecelakaan terjadi dan Crabbe ditemukan tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Peristiwa ini membuat aksi mata-mata Inggris terbongkar, Soviet marah besar dan melancarkan nota protes.

Indonesia Disadap

Namun yang paling mengejutkan, Guardian menuliskan bahwa diplomat Indonesia adalah satu dari beberapa sasaran penyadapan M15.

"M15 dituduh telah menyadap para diplomat, mulai dari Prancis, Jerman, Yunani dan Indonesia, termasuk kamar hotel suite pemimpin Soviet Niita Khrushchev saat mengunjungi Inggris tahun 1950an, dan menerobos masuk ke konsulat Soviet untuk mematai-matai mereka," tulis The Guardian.

Kala itu, dua media yang memberitakan perihal penyadapan ini, yaitu The Guardian dan Observer, ditekan oleh pemerintah.

Saat dimintai keterangan soal pemberitaan ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Michael Tene mengaku belum mendapatkan info soal penyadapan terhadap para diplomat RI di Inggris.

"Saya belum mendapatkan informasi soal ini," kata Tene kepada VIVAnews, Senin 17 Juni 2013.  (VIva)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar