Minggu, 06 Oktober 2013

R80, 'Bayi Bungsu' B.J. Habibie

Setelah mendesain pesawat N250, Baharuddin Jusuf Habibie baru-baru ini kembali menarik perhatian publik dengan rancangan pesawat baru baling-balingnya. Pesawat ini dinamai Regio Prop 80 atau cukup disebut R80 saja.


R80, 'Bayi Bungsu' B.J. Habibie

Habibie mengatakan R80 adalah pengembangan dari N250 buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), yang kini bernama PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Pesawat ini masih dalam fase pengembangan dan rencananya bisa mengudara pada 2016.

“R80 kayak N250, cuma 80 seater. Tentunya engine lebih modern, lebih kuat,” kata Habibie dalam wawancara bersama detikFinance, pada Selasa lalu.


Seperti N250, lanjut Habibie. R80 mengusung mesin turbo dengan baling-baling (turbo propeller). Mesin jenis ini dipercaya lebih efisien sehingga biaya operasional lebih murah dibandingkan jet. Namun kecepatan yang dihasilkan lebih lambat dibandingkan mesin jet.

Habibie mencontohkan simulasi perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dengan menggunakan R80. Dengan pesawat bermesin jet, perjalanan ditempuh dalam waktu 1,5 jam. “Saya butuh waktu dua jam, tapi harganya setengah. Jadi makin tinggi harga BBM, makin unggul saya,” katanya.

Meski masih dalam tahap pengembangan, R80 sudah mendapat pembeli. NAM Air, anak usaha Sriwijaya Air, sudah memesan 100 unit R80. “Kami berkomitmen membeli R-80 untuk memajukan industri dirgantara dan produk nasional,” tutur Chandra Lie, Presiden Direktur Sriwijaya Air.

R80, kata Chandra, tepat menjadi pesawat untuk rute-rute perintis. “Saya yakin produk ini bisa merajut negara kepulauan ini menjadi satu. Kami ingin mempunyai feeder pesawat kecil," ucapnya.

Habibie yakin terhadap masa depan R80. Dia optimistis industri penerbangan bakal terus tumbuh karena Indonesia belum mencapai potensi puncaknya. Biasanya, tambah dia, jumlah pengguna pesawat terbang di suatu negara adalah tiga kali lipat dari populasi. Dengan populasi Indonesia yang sekitar 250 juta jiwa, potensi industri penerbangan bisa mencapai 750 juta penumpang per tahun.

“Kita seharusnya 750 juta, tapi baru 71 juta. Jadi, market-nya ada. Captive market,” tegas Habibie.

Bahkan Habibie menegaskan bahwa R80 bisa memenangi persaingan dengan pesawat sejenis seperti buatan ATR (Aerei da Trasporto Regionale). “Saya berani. Masa saya rencanakan yang lebih jelek?” ujarnya.

Ke depan, R80 akan terus dikembangkan. “Kalau R80 sudah selesai, saya akan pikirkan membuat yang 100 atau 160 seater. Saya juga bisa buat jet, tapi boros. Kalau saya ingin bisa lebih murah, sama amannya. Dia 20 persen lebih pelan tapi operating cost 50 persen lebih murah, itu sasarannya,” jelas mantan presiden Indonesia ini.

Habibie mendesain R80 dengan perusahaan baru bernama PT Ragio Aviasi Industri yang didirikan pada Oktober 2012. Dia bilang, dirinya memang sengaja melibatkan PT Dirgantara Indonesia dalam mendesain pesawat tersebut karena rumitnya birokrasi di perusahaan milik negara itu.

Tapi produksi R80 tetap dilakukan di PT Dirgantara supaya hubungan PT RAI dan PT DI tetap mesra. “Production di PT DI, desain dari RAI. Supaya dekat dengan PT DI, kita sewa ruangan-ruangan di PT DI. Kalau masih kekurangan (karyawan) kita sewa orangnya PT DI,” kata Habibie.

Agung Nugroho, Direktur Utama RAI, menyebutkan saat ini jumlah karyawan di perusahaannya berjumlah 84 orang. “Dari PT DI kira-kira 50 orang dan 34 dari kita,” ujarnya.

RAI, lanjut Agung, juga berencana memanggil dan mempekerjakan para eks karyawan PT DI yang kini bekerja di luar negeri. “Kita akan proses. Kalau ini sudah solid, feasible, dan ada financing kita akan invite kawan-kawan untuk kembali,” tuturnya. (Detik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar