Kamis, 13 Februari 2014

KRI Usman-Harun Bisa Hajar Singapura dalam 10 Detik


Inilah F2000 Corvette buatan BAE System Maritime-Naval Ships yang diakuisisi TNI AL dari Brunei Darusalaam sebagai pemesan sebelumnya (en.wikipedia.org)

JAKARTA (MI) : Korvet terbaru TNI AL, KRI Usman-Harun-359 yang segera datang dari galangan kapal di Scouton, Glasgow, bikin hubungan pertahanan dan militer Indonesia dan Singapura tak lagi mesra. Singapura ingin nama KRI Usman-Harun diganti saja karena menyakiti perasaan mereka.

Usman Haji Mohamed Ali dan Harun Said adalah dua anggota Korps Komando Operasi atau KKO—kini Marinir—TNI AL yang melakukan pengeboman di Mac Donald House, Orchard Road, Singapura saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia, tahun 1962-1966. Saat itu Singapura masih bagian dari Malaysia.


Sebagai wujud protes itu, Singapura mencabut undangan delegasi petinggi Kementerian Pertahanan dan TNI untuk turut dalam dialog pertahanan di sela Singapore Air Show 2014. Namun, Indonesia—dalam hal ini TNI AL, Markas Besar TNI, dan Kementerian Pertahanan—tidak menanggapi “aspirasi” Singapura itu.

“Jika KRI Usman-Harun-359 berada 25 mil laut dari perairan kedaulatan Singapura, maka peluru kendali buatan Prancis berkecepatan suara itu perlu waktu kurang dari 10 detik untuk mengenai sasaran di negara pulau itu sejak diluncurkan dari tabung peluncurnya di kapal.”
KRI Usman-Harun-359 sejatinya hanya salah satu dari 3 korvet terbaru TNI AL, di samping KRI Bung Tomo-357 dan KRI John Lie-358. Ke-3 korvet baru TNI AL itu dinilai Kantor Berita Antara, Rabu (12/2/2014), memang menyimpan potensi yang menggetarkan lawan di perairan kedaulatan Tanah Air.

Kapal yang semula dipesan Angkatan Laut Kesultanan Brunei Darussalam namun tak diterima karena negara mungil tersebut tak punya cukup personel untuk menggawakinya itu, dilengkapi dengan persenjataan sedikit di atas kelas korvet biasa. Galangan kapal di Scouton, Glasgow, ini menempatkan ketiga kapal perang pesanan Brunei Darussalam itu pada kelas Corvette Offshore Patrol alias korvet patroli lepas pantai.

Data tertulis dari galangan kapal pembangun, dinyatakan kapal perang itu memiliki satu meriam Oto Melara 76 mm, dua meriam MSI Defence DS 30B REMSIG 30 mm dan peluncur tripel torpedo BAE Systems 324 mm untuk perang atas air dan bawah air. Ada pula 16 tabung peluncur peluru kendali permukaan-ke-udara VLS MBDA MICA (BAE Systems), dua set 4 tabung peluncur peluru kendali MBDA (Aerospatiale) MM-40 Block II Exocet.

Dua sistem arsenal inilah yang cukup mengganggu pertahanan lawan alias musuh, apakah itu dari udara ataupun permukaan laut. Sistem persenjataan bawah laut ke-3 kapal itu pun cukup mampu menggetarkan lawan hingga jarak sejauh 50 km dari titik peluncuran.

Untuk keperluan perang modern masa kini, apalah artinya senjata-senjata cukup canggih tanpa sistem penjejakan dan sensor-sensor yang juga mumpuni? Karena itulah BAE System Maritime-Naval Ships melengkapi ke-3 kapal perang eks pesanan Angkatan Laut Kesultanan Brunei Darussalam itu dengan pengarah senjata elektro-optik Ultra Electronics/Radamec Series 2500, radar penjejak I/J-band BAE Insyte 1802SW I/J-band, radar navigasi Kelvin Hughes Type 1007, radar Thales Nederland Scout, dan penangkal serangan Thales Sensors Cutlass 242.

Untuk keperluan perang bawah air dari serbuan dan intipan kapal selam, kapal-kapal perang ini dilengkapi pula dengan radar berbasis sonar di lambung Thales Underwater Systems TMS 4130C1, radar permukaan dan udara E-band dan F-band BAE Systems Insyte AWS-9 3D. Inilah salah satu sebab personel pengawaknya cukup banyak.

Dengan karakter korvet yang cukup “mini” namun cukup sarat persenjataan, kapal perang berbobot kosong hampir 2.000 ton ini pas untuk keperluan patroli jarak dekat-menengah dan kawal-sergap. Apalagi kecepatannya cukup mumpuni, yaitu hingga 30 knot per jam berkat dorongan empat mesin diesel MAN B&W/Ruston yang memancarkan tenaga total 30,2 MegaWatt dari 2 poros baling-balingnya.
Di atas kertas, sekali pengisian penuh bahan bakar dan logistiknya, jarak tempuhnya pada kecepatan ekonomis 12 knot per jam adalah 5.000 mil laut. Kalau ini benar-benar diterapkan, maka jarak Sabang-Merauke bisa dia layari dalam 18 hari berlayar.

Dengan perhitungan jarak tempuh peluru kendali MM-38 Block III Exocet menjangkau 180 km, maka jarak 5.000 mil laut alias 9.000 km darat itu memerlukan 50 titik peluncuran peluru kendali secara simultan. Itu berarti, jika KRI Usman-Harun-359 berada 25 mil laut dari perairan kedaulatan Singapura, maka peluru kendali buatan Prancis berkecepatan suara itu perlu waktu kurang dari 10 detik untuk mengenai sasaran di negara pulau itu sejak diluncurkan dari tabung peluncurnya di kapal.





Sumber : Solopos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar