Kamis, 18 Agustus 2016

Ayo Diurai Dong


Pergelaran alutsista di negeri kepulauan ini memiliki karakter tersendiri karena memerlukan alat transportasi laut dan udara dalam kapasitas besar dan banyak. TNI AL punya tugas porsi besar dalam urusan geser menggeser alutsista. Disamping bertugas menggerakkan alias menggeser sejumlah kapal perang untuk tujuan patroli dan gugus tempur laut, juga diberi wewenang memindahkan alutsista matra darat beserta prajuritnya.
Sementara untuk urusan geser menggeser pergelaran alutsista pasti yang lebih cepat adalah TNI AU. Dalam hitungan jam jet tempur atau pesawat angkut sudah berada di lokasi yang diinginkan. Pada tahun 2017 nanti bisa dipastikan semua pengiriman jet tempur F16 sudah sampai di tanah air. Demikian juga jet Golden Eagle sudah diinstal radar tempur dan rudal sehingga ada tambahan kekuatan 30 jet tempur yang ready for use.  
Uji tembak MLRS ASTROS di Pantai Kebumen, Jawa Tengah
Dengan begitu maka jumlah kekuatan Sukhoi ada 16 unit, F16 ada 33 unit, Golden Eagle ada 15 unit, F5E ada 8 unit, Hawk ada 30 unit, Super Tucano ada 15 unit.  Dengan asumsi tidak mengikutsertakan jet tempur F5E dan pesawat coin Super Tucano maka sebaran jet tempur masih cukup memadai untuk patroli wilayah perbatasan. Alokasi persebaran yang paling pantas adalah menggeser 1 flight jet tempur.
Menarik untuk diperhatikan adalah permintaan gubernur NTT baru-baru ini agar di Kupang disediakan penempatan sejumlah jet tempur secara permanen untuk mengawal perbatasan. Prediksi kita secara kuantitas permintaan itu bisa dipenuhi mulai tahun 2017. Misalnya menempatkan 1 flight F16 (4 unit) di Kupang secara permanen lewat pola ganti shift. Jadi skuadron F16 Madiun yang menjadi home basenya bisa mengirim 1 flight kesana secara bergantian. Tak kalah penting mengisi Biak AFB dengan jet tempur Golden Eagle yang juga bermarkas di Madiun.  Jadi bisa diurai, tak menumpuk di Madiun.
Sementara skuadron jet tempur Hawk di Pekanbaru secara rutin mengirim 3-4 jet tempurnya ke Aceh dan bermalam disana, bergantian sepanjang tahun.  Bisa diselingi dengan F16 yang juga bermarkas di Pekanbaru, meski kita meyakini skuadron F16 Pekanbaru berkonsentrasi penuh menjaga Natuna.  Yang jelas di Natuna harus ada secara permanen minimal 1 flight jet tempur minimal F16.  Demikan juga dengan Tarakan, skuadron Supadio harus rajin mengirim sejumlah Hawknya secara rutin, sepanjang tahun kesana. Meski tidak harus setiap hari menggeber mesinnya, yang penting siaga di apron Juata AFB.
Uji coba embarkasi debarkasi Tank Leopard di KRI Teluk Bintuni
Lalu bagaimana dengan Sukhoi.  Karena ini masalah patroli rutin sepanjang tahun di kawasan perbatasan, biarlah yang menjaga jet tempur F16, Hawk dan Golden Eagle, lebih efisien dari semua sisi. Jadi jet tempur kelas berat Sukhoi siaga di home basenya, sesekali melaksanakan patroli insidentil melalui pola-pola acak dan tak terduga di berbagai kawasan perbatasan.
Bagaimana dengan alutsista darat dan marinir yang banyak menumpuk di Jawa. Hampir seluruh alutsista yang baru dibeli ditempatkan di batalyon-batalyon yang ada di Jawa sehingga boleh di kata pulau Jawa jadi gudang arsenal TNI.  Sangat bagus jika ada pola teratur mengirim secara berkala alutsista-alutsista terkini itu ke beberapa daerah misalnya Aceh, Medan, Batam, Balipapan, Jayapura, Kupang. Misalnya alutsista MLRS Astros diangkut ke Jayapura, lalu melakukan uji tembak disana, kemudian dipamerkan di berbagai even nasional lalu kembali ke Jawa. Dampaknya pasti menggetarkan.
Demikan juga melakukan simulasi mengangkut 10-12 tank Leopard dengan kapal angkut tank khusus ke Kalimantan lalu lakukan manuver dan uji tempur di medan Kalbar, pamerkan kepada rakyat disana, biarkan selama satu dua bulan lalu angkut lagi ke Jawa. Ini sangat mungkin dilakukan jika mengalokasikan secara permanen melalui penempatan di batalyon kavaleri Kalimantan masih “berat hati”.

Pola-pola seperti ini perlu diperlihatkan pada rakyat daerah. Misalnya mengangkut lewat laut sejumlah tank BMP 3F, RM Grad, Caesar Nexter, Leopard ke Aceh. Adakan simulasi latihan tempur disana.  Lalu pulangnya lewat jalur darat lintas Banda Aceh_Medan baru kemudian diangkut lagi ke Jawa lewat laut. Konvoi alutsista lewat darat ini akan memberikan dampak kewibawaan pada kehebatan kekuatan TNI di mata rakyat. Ini penting diperlihatkan.
Republik ini sangat luas, maka pemenuhan kebutuhan alutsista khususnya matra udara dan laut sangat mendesak meski sudah banyak alutsista yang berdatangan. Ancaman teritori sudah sedemikian nyata, jangan sampai salah prediksi, kita tak punya musuh, kita bersahabat dengan semua negara.  Bukankah Panglima TNI sudah mengisyaratkan bahwa perang masa depan adalah perebutan sumber daya alam dan energi.  Natuna itu sumber energi, Ambalat itu sumber energi, Arafuru itu sumber energi dan semua sumber energi masa depan ada di laut.
Maka untuk menjamin kewibawaan teritori  di wilayah laut itu, tempatkanlah alutsista strategis disana secara permanen, bukan didatangkan melulu dari Jawa. Secara logika tak ada negara lain yang mau menyerang Jawa. Mereka cenderung akan mengambil alih wilayah sumber energi.  Contohnya Laut Cina Selatan. Sudah saatnya kita mengurai tumpukan alutsista dan prajurit tidak terpusat di Jawa. Perlu membangunkembangkan pangkalan militer baru seperti Natuna, Saumlaki dan Kupang.
Ini tentu butuh persiapan. Tetapi dengan menempatkan atau menggeser alutsista-alutsista gahar itu secara shift dan memperlihatkannya secara langsung pada rakyat di daerah dan perbatasan, setidaknya akan memberikan rasa nasionalisme pada warga daerah. Tetapi lebih penting dari itu adalah kehadiran militer dan alutsista gahar di perbatasan secara terus sepanjang tahun akan memperkecil ruang intervensi dan klaim pihak lain.  Percayalah.
****
Jagarin Pane / 15 Agustus 2016

Source : analisis pertahanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar