Rabu, 19 Maret 2014

Asia Pasifik Sumbang 47% Impor Senjata Dunia


Moncong AK

Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) merilis laporan “Trends in International Arms Transfers, 2013” yang mendokumentasikan besaran ekspor dan impor senjata negara-negara di dunia. SIPRI menemukan bahwa pasar global untuk senjata dunia tumbuh sebesar 14 persen dari rentang 2004-2008 ke rentang 2009-2013. Wilayah Asia Pasifik dan Oceania

memimpin dalam urusan impor, tercatat 47 persen dari total impor senjata dunia. Rinciannya, Asia Selatan menyumbang 45 persen dari total pembelian regional, Asia timur 27 persen, Asia Tenggara 23 persen dan Oceania 8 persen.
Laporan ini juga mengurutkan negara eksportir dan importir senjata terbesar di dunia. Eksportir senjata terbesar di dunia tetap belum berubah, sesuai urutan yaitu Amerika Serikat, Rusia, Jerman, China dan Perancis. Sementara China adalah satu-satunya negara Asia dari kawasan Pasifik yang masuk dalam 5 besar negara pengekspor senjata di dunia. Sedangkan untuk urusan impor senjata negara-negara di kawasan Asia Pasifik yang terbesar adalah India, disusul China dan Pakistan. Tidak hanya di Asia Pasifik, saat ini ketiga negara tersebut juga sebagai importir senjata terbesar di dunia.

India menyumbang sekitar 14 persen dari total impor senjata dunia, dan sebagai satu-satunya negara dengan persentase impor senjata dua digit. Sebagai perbandingan, persentase China dan Pakistan masing-masing adalah 5 persen dari impor senjata dunia. Di rentang 2004-2008, ketika China belum cukup mampu untuk mengembangkan persenjataan militernya sendiri, impor senjata China bisa mencapai 11 persen. Sedangkan Pakistan, kemampuan impor senjatanya meningkat dua kali lipat dari dua persen pada rentang 2004-2008 menjadi lima persen pada rentang 2009-2013.

Laporan SIPRI juga menekankan proses militerisasi simultan antara India dan Pakistan yang mana keduanya sejak dulu bertengkar atas wilayah sengketa Kashmir, dan bentrokan senjata antara keduanya sudah menjadi biasa. Setidaknya kedua negara ini sudah empat kali berperang (konvensional) sejak kemerdekaan mereka pada 1947, yaitu pada tahun 1947, 1965, 1971 dan terakhir 1999.

SIPRI mencatat bahwa impor senjata dan militerisasi di kawasan Asia Pasifik dan Oceania meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Persentase kenaikan impor senjata untuk kawasan ini antara rentang 2004-2008 ke rentang 2009-2013 sangat tajam, sekitar 34 persen, yang utamanya dipimpin oleh India. Pada 2004-2008, Asia Pasifik dan Oceania menyumbang 40 persen dari impor senjata dunia dan saat ini telah meningkat menjadi 47 persen. Negara-negara Asia Pasifik dan Oceania lain yang menunjukkan persentase impor yang besar adalah Australia, Korea Selatan dan Singapura. Kemampuan impor senjata Australia meningkat dua kali lipat menjadi empat persen dari rentang 2004-2008 ke 2009-2013. Korea Selatan, meskipun persentasenya besar, namun sebenarnya impor senjata mereka relatif menurun dalam dua kurun waktu tersebut, sedangkan Singapura terjadi sedikit peningkatan yang awalnya 2 persen menjadi hampir 3 persen.

Ketergantungan India pada impor senjata asing untuk memenuhi kebutuhan militernya merupakan kerugian strategis yang besar, karena itu India menggalakkan program pembangunan senjata dalam negeri. Melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertahanan (DRDO), India kini sudah bisa menghasikan berbagai teknologi senjata modern, salah satunya rudal jelajah hipersonik BrahMos (masih kerjasama dengan Rusia). Angkatan Laut India juga segera akan mengoperasikan kapal induk nuklir hasil buatan dalam negeri (kemungkinan 2015), INS Arihant, dan juga akan meluncurkan kapal induk lainnya, INS Vikrant pada tahun 2016.

SIPRI adalah lembaga internasional independen di Swedia yang didirikan pada tahun 1996, berdedikasi untuk penelitian konflik, persenjataan, pengawasan dan perlucutan senjata. Berbasis open source, SIPRI menyediakan data, analisis, dan rekomendasi untuk pembuat kebijakan, peneliti, media dan masyarakat dunia yang berminat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar