Minggu, 11 Agustus 2013

Terima Suaka Snowden, Sulut Kemarahan Amerika Terhadap Rusia

Usai sudah drama persembunyian Edward Snowden di Bandara Internasional Sheremetyevo, Moskow. Setelah lebih dari lima pekan, pembocor rahasia intelijen AS itu bisa keluar dari bandara, setelah pemerintah Rusia Kamis kemarin waktu setempat memberi jaminan suaka sebagai pengungsi sehingga bisa tinggal di negara itu.


Terima Suaka Snowden, Sulut Kemarahan Amerika Terhadap Rusia


Dia diberikan izin tinggal di Rusia selama satu tahun. Itu merupakan waktu yang cukup bagi Snowden untuk sementara waktu menghindar dari kejaran aparat hukum AS, yang ingin menangkapnya atas kasus spionase dan pencurian data pemerintah AS.

Drama Snowden di Bandara Moskow itu telah mendapat perhatian luas masyarakat internasional. VIVAnews sebelumnya juga memuat kisah "terdamparnya" Snowden di Bandara Moskow selama berminggu-minggu dan dapat dibaca dengan membuka tautan ini.

Setelah mendapat suaka, Snowden pun bisa masuk ke wilayah Rusia. Menurut kantor berita RIA Novosti, mantan staf badan intelijen CIA dan Badan Keamanan AS NSA itu melintasi pos imigrasi Rusia pada Kamis sore 1 Agustus pukul 15.30 setelah berminggu-minggu berada di zona transit internasional dan paspornya dicabut pemerintah AS.

Dibantu oleh sejumlah orang, Snowden lantas diantar keluar dari bandara tanpa diketahui khalayak banyak dan secara cepat pergi menggunakan taksi. Tidak jelas kemana dia dibawa pergi.

Anatoly Kucherena, seorang pengacara Rusia yang selama ini membantu Snowden sejak mendarat di Moskow, kepada kantor berita Reuters hanya mengungkapkan bahwa pria 30 tahun itu untuk sementara tinggal di suatu rumah milik ekspatriat Amerika. Kucherena juga menjelaskan bahwa Snowden sendiri ingin menyewa sebuah flat dan mencari kerja di Rusia.

Maka, tidak sampai sejam setelah Snowden bebas menjejakkan kaki di Rusia, pihak berwenang, media, dan pebisnis setempat menjuluki dia "pahlawan" atau "seorang bintang," ungkap The Daily Beast. Semuanya tampak disediakan untuk Snowden.

Beberapa warga Moskow bahkan menyarankan Snowden agar menjadi figur publik dan menerima tawaran nikah dari Anna Chapman, perempuan cantik yang diusir dari AS tiga tahun lalu setelah dituduh menjadi mata-mata Rusia. Warga lain menyarankan Snowden untuk terus menghindar dari pantauan media dan membantu Rusia memperbaiki sistem keamanan.
   
"Snowden itu seorang pakar tingkat tinggi dan saya sudah menerima surat-surat dari sejumlah perusahaan dan warga yang ingin memberi dia pekerjaan. Dia tidak akan punya masalah," kata Kucherena.

AS Kesal

Drama pelarian Snowden telah menambah tegang hubungan antara Amerika Serikat dengan Rusia. Ini sejak Rusia setuju memberi suaka kepada pembocor rahasia intelijen AS itu sehingga bisa tinggal di negara tersebut selama setahun.

AS kesal dengan langkah Rusia itu. Dengan demikian, selama berada di wilayah Rusia, AS tidak bisa menangkap Snowden untuk diadili atas dakwaan spionase dan pencurian data pemerintah setelah membocorkan program penyadapan komunikasi milik publik melalui Internet. 

"Kami sangat kecewa bahwa pemerintah Rusia mengambil langkah demikian meski kami telah mengajukan permintaan yang sah secara umum dan pribadi agar Snowden diusir ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan," kata juru bicara Gedung Putih, Jay Carney pada Kamis sore waktu Washington DC, seperti dikutip The Huffington Post.

Kepada media yang sama, kalangan elit politik AS menilai kebijakan Moskow atas Snowden itu merupakan penghinaan. "Aksi Rusia itu merupakan tindakan yang memalukan dan upaya yang disengaja untuk mempermalukan Amerika Serikat," demikian pernyataan bersama dua senator, John McCain dari Arizona dan Lindsey Graham dari South Carolina, seperti yang dikutip The Huffington Post.

"Itu adalah tamparan ke wajah semua warga Amerika. Kini saatnya untuk secara fundamental meninjau kembali hubungan dengan Rusia-nya Putin," lanjut pernyataan dua senator dari Partai Republik itu. Senator dari Partai Demokrat, chuck Schumer, juga melontarkan kekecewaan serupa. Dia menganggap suaka Rusia atas Snowden ini merupakan "tikaman dari belakang."

Kalangan pengamat, seperti dikutip kantor berita Reuters, menilai bahwa kebijakan itu membuat pandangan elit politik AS kepada Rusia kian negatif. "Iklim politik di Washington atas Rusia sudah buruk," kata Andrew Weiss, mantan penasihat Presiden Bill Clinton untuk urusan Rusia. "Sudah banyak kemarahan atas Rusia di kalangan elit. Masalah Snowden ini kian menambah tensi," lanjut Weiss.

Selain isu Snowden, AS dan Rusia berselisih pendapat soal atas beberapa masalah lain. Salah satunya adalah melihat konflik politik di Suriah.

Vladimir Putin masih mendukung rezim Bashar al-Assad untuk mengakhiri Perang Saudara di Suriah. Sebaliknya, Barack Obama menggalang seruan internasional untuk mendesak al-Assad segera mundur agar krisis selesai.

Kalangan pengamat menilai selama AS dan Rusia belum sepaham, susah bagi mereka untuk bekerjasama membantu Suriah mencari jalan keluar dari krisis, seperti mengatur perundingan damai antarkubu yang berkonflik.

Kedua negara pun belum sepakat soal masalah kepemilikan nuklir Iran. Elit di Washington khawatir bahwa Rusia bisa mengganggu upaya mendesak Iran melucuti senjata nuklir dengan penerapan sanksi-sanksi ketat.

Soal isu hak asasi manusia (HAM), AS dan Rusia juga belum sepaham. Selama ini Gedung Putih kurang suka dengan cara Kremlin dalam membungkam kubu oposisi di Rusia. Namun, sejak Moskow mengizinkan suaka kepada Snowden, AS akan lebih lugas mengritik lemahnya penegakan HAM di Rusia. Sebaliknya, dengan memanfaatkan skandal yang diungkapkan Snowden, Putin juga menuding pemerintahan Obama telah bersikap munafik setelah mengritik Rusia soal isu HAM.

Ketegangan soal Snowden juga dipandang bisa mempersulit Obama untuk mendesak Rusia membuka negosiasi untuk membuat kesepakatan baru mengurangi senjata nuklir. Proposal itu dikemukakan Obama saat berpidato di Berlin, Jerman, Juni lalu dan ini, bila terwujud, akan menjadi salah satu warisan besarnya untuk AS sebagai presiden. Namun, hingga kini, Rusia masih belum serius menanggapi.

Drama Snowden ini juga memunculkan kritik kepada Obama karena dipandang selama ini terlalu yakin bahwa Moskow akan sepaham dengan Washington. Masalah itu dipandang menjadi tanda bahwa sekali lagi AS, walau masih dianggap berstatus negara adidaya, gagal menanamkan pengaruhnya di luar negeri saat Washington juga masih berjuang menebar pengaruh atas penyelesaian krisis di Suriah dan Mesir.

"Kecuali kami tetap dipandang sebagai pihak yang terhina dan dipandang rendah, cepat atau lambat pihak-pihak di Washington yang ingin Rusia agar membayar harga dari rangkaian penghinaan itu akan berhasil," kata Ariel Cohen, pakar studi Rusia dan Eurasia dari lembaga riset berhaluan konservatif Heritage Foundation, seperti dikutip Reuters.

Tindakan Balasan

Maka, sudah muncul suara-suara dari Washington agar AS terapkan "tindakan balasan" kepada Rusia. Boikot pertemuan dengan pemimpin Rusia mungkin bisa jadi pilihan.

Obama dijadwalkan menghadiri pertemuan tahunan para pemimpin kelompok 20 negara (G20) di Kota St.Petersburg, Rusia, September mendatang. Namun, juru bicara Gedung Putih, Jay Karney, mengisyarakatkan bahwa Obama bisa saja tidak datang. "Kami sedang mengevaluasi perlunya menghadiri pertemuan itu terkait isu [Snowden] ini dan isu-isu lain," kata Karney seperti dikutip The Huffington Post.

Bahkan Senator Chuck Schumer, yang merupakan sekutu dekat Obama, meminta presiden AS menyarankan agar penyelenggaraan Konfrensi Tingkat Tinggi G20 tahun ini dipindah dari Rusia. Selain itu, beberapa politisi AS menyerukan aksi boikot atas penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin yang akan berlangsung di Kota Sochi, Rusia, pada Februari 2014. Belum ada kabar apakah Gedung Putih serius menindaklanjuti usulan-usulan ekstrem dari para elit politik di Washington.

Walau hubungan kedua negara kini berlangsung tegang, kalangan pengamat tidak yakin bahwa drama Snowden ini, dan juga isu-isu lain, bakal memutuskan hubungan AS dan Rusia. James Goldgeier, pengamat dari American University di Washington kepada Reuters, menilai terlalu mahal bila kepentingan bersama kedua negara di tingkat global sampai dikorbankan hanya karena drama Snowden.

"Tidak ada pihak ingin hubungan yang bersifat antagonistik. Itu hanya akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih berbahaya," kata Goldgeier. (VivaNews)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar