Minggu, 22 Juni 2014

KARYA ANAK BANGSA DI SELAT MELAKA



 
kcr-40-1
KRI Alamang 644 (KCR-40)
Perhatian kami tiba-tiba tertuju pada konvoi kapal patroli yang sedang melintas, tidak jauh dari boat tempat kami yang sedang lego jangkar. Sebelumnya saya tidak tahu, program apa yang sedang dijalani oleh kapal-kapal patroli ini. Tidak besar tapi tampak gagah dan lincah. Perhatian kami terfokus pada sebuah kapal yang paling keren, KRI Alamang..! Sebuah KCR, yang diproduksi PT Palindo Marines and Shipyard di Batam.

Setelah pulang ke rumah, saya segera mencari informasi yang berkaitan dengan kehadiran kapal-kapal milik TNI tersebut. Ternyata, kedatangan mereka adalah untuk mengikuti program tahunan yang bertajuk Patkor Malindo 2014. Ada kekaguman dan kebanggaan yang begitu dalam tatkala menyaksikan karya anak bangsa melenggang di negeri orang. Tidak sedikit dari sekian banyak prajurit dan perwira Angkatan Laut dari kedua negara yang rela bersusah payah untuk mengabadikan sosok seksi yang sengaja didatangkan dari pangkalannya di Lantamal 1 Belawan, Medan.
KRI Alamang 644 (KCR-40)
KRI Alamang 644 (KCR-40)
Patkor Malindo, yang telah diakui dunia sebagai sebuah wadah koordinasi pengawalan dan pengamanan selat Melaka paling sukses, kini akan lebih fokus pada pengaman selat Melaka dari aktivitas penyelundupan manusia dan pendatang haram. Apalagi dalam seminggu ini, telah dua kali berturut-turut terjadi kecelakaan kapal yang merenggut korban dari Indonesia. Untuk itu, kedua institusi terkait telah sepakat untuk mencari pangkal permasalahannya.
Dikabarkan dari Singapore, bahwa kedua kapal tersebut telah dan sedang mengantongi surat izin berlayar dari Aceh-Singapore-Aceh. Pertanyaannya, mengapa kapal itu tiba-tiba ada di Port Klang, dan bukan hanya mengangkut barang, tetapi juga banyak mengangkut orang. Inilah misteri klasik yang akan menjadi materi utama Patroli Koordinasi tahun ini.
KRI Siribua bersama KRI Alamang
KRI Siribua bersama KRI Alamang
Nun di tengah laut selat Melaka, aktivitas kapal-kapal patroli, nelayan dan fery, nampak begitu sibuk. Sejauh ini, modus penyelundupan manusia dan pendatang ilegal dari dan ke Melaka, memang terbilang jarang atau mungkin hampir tidak pernah terjadi. Setidaknya itulah info yang dirilis oleh TLDM pada publik sejauh ini. Mungkin karena letak pelabuhan Melaka yang diapit oleh berbagai fasilitas ketentaraan, sehingga para pelaku kejahatan menjadi kurang bernyali untuk beraksi di kota pelabuhan ini. Lain halnya dengan Port Klang, yang banyak dikelilingi oleh pulau-pulau kecil dan kampung nelayan, serta disinggahi kapal-kapal barang bertonase besar, sehingga dianggap lebih aman untuk bermain petak umpet dengan pihak keamanan.
malaka-patroli
Langit begitu cerah, matahari di atas kepala seakan enggan untuk berhenti menyemburkan panasnya yang melelehkan peluh-peluh di tubuh. Angin laut yang kadang terasa lebih kencang, sesekali seperti ingin mencabut ujung air laut, mencabut dan membantingnya, sehingga kapal-kapal kecil yang kerap lalu-lalang, menjadi ikut bergoyang..! Tapi konvoi kapal-kapal TNI AL ini, seakan tidak terpengaruh dengan debur ombak yang sesekali datang menampar.
Sungguh indah..! Kami membayangkan bagaimana saudara-saudara kita saat membangun KCR 40 di Batam. Mereka telah bekerja tanpa mengenal lelah, untuk sebuah atau beberapa masterpiece seni alutsista persembahan TNI AL. Inilah akumulasi dari sebuah pembelajaran yang gigih, bekerja tangguh dan berpikir positif. Hehehe..! Anda masih meragukannya..? Mari kita belajar lagi..! Selamat berakhir pekan bung..! (by:yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 21 June 2014).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar