Minggu, 09 Agustus 2015

Indonesia di Persimpangan Jalan


 

Eurofighter Typhoon
Eurofighter Typhoon
Kemandirian Alutsista….kata kata itu enak diucapkan tapi sulit dilaksanakan, karena banyak godaannya. Godaannya antara lain, ketika kita ada uang untuk membeli barang yang lebih hebat.
Lebih dari itu, kemandirian pun butuh, upaya trial and error, jatuh bangun, kegagalan, dan berbagai hal yang tidak mengenakkan pikiran.

Namun semua hal itu, tidak berlaku bagi rakyat Pakistan. “Rakyatnya bersumpah, rela makan rumput”, untuk mewujudkan senjata nuklir yang membutuhkan dana yang besar. Kini Pakistan memetik hasilnya.
Tawaran pembelian Sukhoi, SU 35 adalah menggiurkan. Kita akan memiliki pesawat tempur yang handal. Membanggakan dan disegani. Namun kalau hanya bisa membeli, apalah kebanggaan yang bisa didapat. Apalagi pembelian Alutsista penuh dengan aturan. Anda tidak bisa membongkarnya, tidak bisa memodifikasinya, keterbatasan suku cadang, pemeliharaan dan sebagainya.
Kini Indonesia berada di persimpangan jalan. Apakah akan membeli SU-35 atau Eurofighter Typhoon yang disertai transfer teknologi dan perakitan di dalam negeri. Soal berapa persen kemampuan kita menyerap teknologi tersebut, itu urusan lain yang harus diselesaikan lewat kecerdasan dan keuletan anak bangsa.
Bila melihat sejarah Alutsista buatan dalam negeri, ada kesadaran yang semakin kuat, untuk kemandirian alutsista. Hal ini dimulai dengan lisensi senjata FNC Belgia yang kini berkembang menjadi senjata SS Pindad beserta variannya. Begitu pula dengan Panser Anoa, PKR Sigma dan kapal selam Changbogo.
Panglima TNI kala itu, Jenderal Moeldoko mengatakan, biaya transfer teknologi kapal selam Chang Bogo, sangat mahal. Tapi hal itu dilakukan demi kemandirian.
Masa depan tidak bisa ditebak, tapi bisa sedikit dibaca lewat sejarah berbagai peristiwa sejenis, yang telah terjadi.
Jika melihat sejarah senjata SS Pindad, Panser Anoa, Frigate Sigma dan kapal selam Chang Bogo, bisa sedikit ditebak, pemerintah akan memilih Eurofighter Typhoon yang dirakit di Indonesia, ketimbang membeli SU-35.
Indikasi ini semakin menguat, ketika Presiden Jokowi mengatakan, tidak ada lagi pembelian alutsista dari luar negeri. Kalimat itu bisa dipahami, alutsista yang dibeli di luar negeri, harus dirakit di Indonesia.
Ditambah lagi track record, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang sukses mendorong pembangunan Panser Anoa di Pindad, dengan proses ToT dengan VAB Commando Prancis.
Logikanya, kalau pemerintah tetap membeli SU-35, maka mereka sudah sangat yakin, rencana pembuatan pesawat tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan, hingga saat ini berjalan mulus. Di luar itu, saya tidak menemukan logika lain.
Mungkin akan ada pertanyaan, ya…mau transfer teknologi, tapi jangan Typhoon, melainkan SU-35, F-35 atau F-15. Justru karena pesawat itu Eurofighter Typhoon, mereka mau memberikan ToT-nya. Kalau pesawat lebih canggih seperti SU-35, PAK FA atau F-35, pasti tidak akan diberikan
Dengan dilakukannya perakitan Typhoon oleh PT DI, akan memberikan ilmu yang sangat berharga bagi insinyur insinyur Indonesia dalam membuat pesawat canggih dan modern. Kita lihat saja, ke mana negeri kita ini akan melangkah.
Ada pepatah China mengatakan: Berpikirlah kamu sebelum bertindak dan memang harus berpikir. Tapi jangan terus menerus berpikir, karena hidangan makan malammu keburu dingin. Ketika kamu meninggal, rekanmu akan datang ke batu nisan, dan menuliskan angka nol besar di batu nisan. Pergi dan Lakukan.(JKGR).

1 komentar: