Minggu, 09 Agustus 2015

Membangun Pesawat Tempur Indonesia

Eurofighter Typhoon

Eurofighter Typhoon
Jika hari ini negara kita didatangi empat negara Eropa yang menawarkan transfer teknologi pesawat tempur Typhoon, perakitan di PT DI dan bebas biaya perawatan 30 tahun, bagi saya ini adalah sesuatu yang mencengangkan.

Dengan kata lain, semua yang dibutuhkan Indonesia untuk membuat pesawat tempur, disiapkan oleh mereka. Dengan memberikan perawatan gratis selaman30 tahun (mungkin maksudnya, tenaga ahli), ini menunjukkan Eropa: Inggris, Jerman, Spanyol dan Italia, memiliki niat yang benar. Jalur pengembangan teknologi ke empat negara Eropa itu terbuka lebar. Indonesia akan bisa “sekolahkan” ratusan insinyur untuk belajar pesawat tempur modern. Bayangkan….ratusan insinyur kita akan belajar pesawat tempur…gratis. Kapan lagi ada kesempatan seperti itu ?.
Jika proyek ini bisa berjalan, tentu masih banyak proyek dari keempat negara tersebut yang bisa dikembangkan di kemudian hari. Jangan hanya pikirkan Eurofighter Typhoonnya. Lebih dari itu track record kerjasama Indonesia dengan CASSA Spanyol di waktu lalu, juga berjalan mulus.
Mungkin ada yang berpikir, oh…mereka akan bangkrut, sehingga obral teknologi. That’s fine. Tidak masalah. Justru saat seperti inilah kita tolong mereka. Mengembangkan rasa saling menolong yang tulus, lebih dari sekedar bisnis semata.
Jika kita lihat 30-40 tahun ke belakang, rasanya tidak ada momen seperti saat ini. Sulit sekali untuk mendapatkan teknologi militer. Anda harus punya ratusan pakar yang jenius. Harus mengirim intelijen ke negara lain, untuk mencuri teknologi dan banyak berakhir dengan kasus kematian atau masuk penjara.
Kini jaman telah berubah. Empat jagoan negara Eropa datang ke kita untuk menawarkan transfer teknologi pesawat tempur yang kita butuhkn. Pola pikir kita juga harus berubah. Jangan Anda harap, keempat negara itu akan datang lagi, membujuk bujuk anda, untuk proyek yang sama. Kita juga butuh proyek tersebut. Ambil…. !.
Mungkin ada yang berpikir, kita butuh pesawat yang lebih canghih dari Typhoon, minimal SU-35. Adrenalin kita memang langsung naik jika mendengar Su-35. Tapi bukan itu tujuan dari negeri ini. Tujuan kita adalah meraih teknologi sebanyak mungkin untuk membangun negeri Indonesia. Kisah sukses yang dilakukan China, India dan Pakistan, bisa jadi pelajaran.
Hidup memang harus memilih. Ada kalanya tidak bisa Anda raih semuanya. “Kalau kita pilih Typhoon, militer kita tidak akan sekuat jika memiliki Su-35″, melintas pikiran itu di benak kita. Ya tidak apa apa, karena kita harus memilih.
Pilihan antara Su-35 dan Typhoon, ibarat vitamin (obat) dan olahraga. Su-35 adalah vitamin/obat yang merupakan sebuah jalan pintas. Sementara Typhoon adalah Olahraga, sesuatu pekerjaan yang terus menerus dilakukan dalam waktu lama, untuk menciptakan ketahanan tubuh. Tidak instan dan keropos di dalam.
Kasus ini berbeda dengan program IFX/KFX yang bekerjasama dengan Korea Selatan. Dengan Korea Selatan, kita sama sama hendak membuat pesawat yang baru, yang bentuk dan komponennya pun masih sedang dicari dan dipikirkan. Anggap saja ini stage Advanced dari target pencapaian teknologi pesawat tempur. Sementara kerjasama dengan Eurofighter, adalah membangun, belajar membuat pesawat tempur yang memang sudah ada dan matang. Anggap ini tahapan intermediate (menengah).
Bagaimana kalau proyek Typhoon gagal ?. Teknologi pesawat tempur keempat negara ini sudah matang. Hanya orang pesimis yang melihat sebuah peluang sebagai kegagalan. Orang orang optimis, melihat peluang sebagai gerbang keberhasilan. Tunggu apa lagi ?.Pergi dan Lakukan ! 
(JKGR).

2 komentar: