Rabu, 09 September 2015

AYO MARI KITA BERHITUNG ! (7)


Burung Hantu Berhidung Besar Selfie
 image001
Matahari terbenam
Hari mulai malam
Terdengar burung hantu
Suaranya merdu
Kukuuu
Kukuuu
Kuku kuku kukuuu
Kukuuu
Kukuuu
Kuku kuku kuku
Itulah lagu anak-anak semasa Tukang Ngitung PhD., masih kecil.
Lalu mengapa burung hantu ?Ada yang unik dari burung ini, yaitu bentuk wajahnya.
Mari kita lihat artikel dari Daily Mail di bawah ini :
Dari www.dailymail.co.uk :
Pictured: Moment the owl with radar-dish face hears tiny vole scampering in the snow
By MAIL FOREIGN SERVICE UPDATED: 13:53 GMT, 16 March 2010
Scurrying across a snow-covered field, the tiny meadow vole made hardly a sound.
But the Great Grey Owl heard it anyway – and swooped. The huge bird’s flat face acts like a radar dish, directing even the faintest noise towards its ears. So even if its prey had been a foot under the surface of the snow, its fate would still have been sealed.
Death from the sky: The owl hurtles towards the vole
Death from the sky: The owl hurtles towards the vole
The owl had been perched in a tree overlooking the field in Bobcaygeon, Ontario, Canada, as temperatures plummeted to -15C.
Photographer Jody Melanson, 47, travelled an hour to the area to get pictures after receiving a tip-off that the Great Grey Owl was there.
He said: ‘I found the owl after five minutes of searching. He was sitting in a tree hunting.
‘When he heard something edible he swooped down and grabbed the vole.
Snow way out: The owl lands several inches into the snow after pouncing on the hapless vole
Snow way out: The owl lands several inches into the snow after pouncing on the hapless vole
Wise guy: The bird of prey has a unique 'radar dish' face which allows it to detect prey even if it is under snow
Wise guy: The bird of prey has a unique ‘radar dish’ face which allows it to detect prey even if it is under snow
‘Great Grey Owls can hear prey a foot below the snow. The owls face is shaped like a radar dish and they use their ears to pinpoint the prey’s location.
‘There is no chase. The owl hears, silently swoops in and pounces on the prey. The owl seldom misses.’
Ya, burung ini wajahnya seperti piringan radar yang dapat menangkap gelombang suara dan menghantarkan gelombang ini ke telinganya.
Nah, jadi kali ini kita akan membahas tentang kebutuhan radar kita. Mari kita perhatikan artikel dari defense-studies berikut  ini :
Dari defense-studies :
Tiga Perusahaan Nasional Siap Pasok Radar Pertahanan Udara dengan ToT
26 Maret 2012
Radar Northrop Grumman AN/TPS-78 (photo : Northrop Grumman)
Radar Northrop Grumman AN/TPS-78 (photo : Northrop Grumman)
Bertempat di Jakarta Convention Center, pada tanggal 21-23 Maret 2012 digelar perhelatan Jakarta International Defense Dialogue (JIDD) yang diikuti dengan penyelenggaran pemeran Asia Pasific Security and Defense Expo (APSDEX 2012). Pameran ini lebih banyak menampilkan alutsista produksi dalam negeri, meskipun beberapa peserta ada juga yang berasal dari negara lain.
Defense Studies menyempatkan diri untuk berkunjung ke anjungan PT LEN, PT INTI, dan PT CMI dalam kesiapannya untuk mengikuti tender pengadaan radar pertahanan udara setelah Thales Raytheon Systems menyelesaikan pemasangan tiga radar pertahanan udara jenis Master-T di Merauke, Saumlaki dan Timika.
Berkenaan dengan rencana pemenuhan MEF hingga tahun 2024 dalam bentuk tersedianya 32 instalasi radar yang dapat mengcover seluruh wilayah Nusantara maka beberapa daerah direncanakan untuk dipasang radar antara lain Jayapura, Manokwari, Morotai, Poso, Singkawang, dan Tabulang. Tender terakhir yang dilaksanakan mensyaratkan radar pertahanan udara jarak jauh jenis 3D dengan jangkauan 400km.
  1. Inti dan Northrop Grumman
PT Inti rencananya akan menggandeng perusahaan asal AS NorthropGrumman, radar yang ditawarkan adalah AN/TPS-78 yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari AN/TPS-70 yang telah menyandang predikat ‘combat proven’ dan digunakan di lebih dari 20 negara termasuk Thailand. Radar ini disebutkan mempunyai keunggulan dalam air mobility.Keseluruhan sistem dapat diangkut dalam satu pesawat C-130 Hercules dan dapat diinstall dalam 30 menit.Keunggulan lainnya adalah radar ini lebih tahan jamming.
AN/TPS-78 adalah radar 3D yang beroperasi dalam frekuensi S-band (2-4 GHz) dan disebutkan mempunyai jangkauan 240 nautical miles (455km).
Kerjasama PT Inti dan Northrop Grumman akan dideklarasikan pada bulan April 2012 di Bali. Melalui kesepakatan tersebut PT Inti akan mendapatkan porsi pekerjaan 40% sedangkan sisanya dikerjakan oleh Northrop Grumman.
Radar Lockheed Martin AN/TPS-77 (photo : Lockheed Martin)
Radar Lockheed Martin AN/TPS-77 (photo : Lockheed Martin)
PT CMI Teknologi dan Lockheed Martin
PT CMI Teknologi telah menandatangani kerjasama dengan Lockheed Martin pada bulan Maret 2012.Sesuai dengan kesepakatan tersebut maka terhadap produk radar AN/TPS-77 yang dipasarkan oleh Lockheed Martin maupun CM-77 yang dipasarkan oleh PT CMI semuanya mengandung komponen modul buatan CMI.
Radar AN/TPS-77 beroperasi dalam frekuensi L-band (1-2 GHz), mempunyai jangkauan 250 nautical miles (463 km) dan telah digunakan di 22 negara, tetangga terdekat yang menggunakannya adalah Australia dan Singapore . Keunggulan radar ini adalah mampu mendeteksi sasaran di bawah horizon hingga -6°.Jika radar ini dipasang di atas bukit maka mampu mendeteksi penerbangan pesawat atau helicopter yang terbang rendah mengikuti kontur lembah.
PT CMI Teknologi sebagai perusahaan mikrowave asal Bandung sebelumnya telah berhasil membuat microwave signal processor untuk pesawat F-5 dan F-16 yang digunakan Indonesia ketika mengalami embargo. Kualitas produk yang dihasilkannya dinilai baik oleh Lockheed Martin sehingga memilihnya sebagai mitra untuk bekerja sama.
Radar Thales Raytheon Systems Groundmaster 400 (photo : Thales Raystehon Systems)
Radar Thales Raytheon Systems Groundmaster 400 (photo : Thales Raystehon Systems)
PT Len Industri dan Thales Raytheon Systems (TRS)
Thales Raytheon Systems baru saja menyelesaikan pemasangan 3 radar pertahanan udara jarak jauh jenis Master-T untuk Indonesia Bagian Timur.Dalam website resmi Thales Raytheon disebutkan bahwa TRS dan PT Len Industri telah sepakat untuk bekerjasama dalam pengadaan radar berikutnya bagi TNI, dan hal ini dibenarkan oleh anjungan PT Len Industri dalam pameran ini.
Mengenai jenis radar yang akan diajukan, pihak PT Len Industri mengatakan bahwa radar Master-T tetap akan diajukan, namun tidak menutup kemungkinan untuk mengajukan radar seri lain yaitu Ground Master 400 (GM-400). Radar GM-400 ini telah dipesan juga oleh Angkatan Udara Malaysia.
Sama seperti radar Master-T, radar GM-400 beroperasi pada frekuensi S-band (2-4 GHz) dengan jangkauan 470 km. Disain radar GM-400 tergolong unik karena radar head dan cabin-nya digabung, meskipun hal ini akan membuat ukuran cabin menjadi kecil namun menjadikannya sebagai radar yang kompak.
Dari kerjasama PT Len dan TRS ini maka PT Len akan mendapatkan porsi 40% dalam muatan lokal jika duet ini memenangkan tender.(Defense Studies)
Dari Jakartagreater 20 Agustus 2015 dikutip dari majalah Gatra ada judul  :Indonesia Jajaki Pembelian S-300 Rusia

image009
Karena S-300 variannya ada beberapa maka saya, Tukang Ngitung PhD., saya ambil satu sampel yaitu S-300VM
Dikutip dari Deagel.com :
S-300VM  
Initial Operational Capability (IOC): 1999
Total Production: ?
Unitary Cost: USD$120 million
Also Known As: Antei-2500, Antey-2500, S-300V3?, S-330?, SA-10E and SA-23 Gladiator
Origin: Russia
Corporations: Almaz-Antey Concern
S-300VM Specifications
Engaged Aerial Targets: 16
Performance
Target’s Max Altitude: 30,000 meter (98,425 foot)
Weapon Max Range: 40,000 meter
Time
SetUp Time: 5 minute (0.08 hour)
Description: The S-300V, SA-12 NATO-codename, is a long range, Surface-to-Air Missile (SAM) system intended to provide advanced air defense capability for vital battlefield and rear areas as well as country’s administrative and political centers. It is able to engage advanced aerodynamic and ballistic threats in all-weather and severe clutter and jamming environment. The S-300V weapon system comprises a command post vehicle, an all-around surveillance radar, a sector scanning radar, up to 4 missile guidance radars, and upto 24 launcher(TEL) vehicles. All these equipment are mounted on tracked vehicles featuring enhanced cross country mobility, while S-300 employs wheeled vehicles. Repair, maintenance and training facilities are also associated to each S-300V SAM system.
The Antei-2500 (aka S-300VM or S-330?) is an improved variant of S-300V/2 intended to intercept Ballistic Missiles with an estimated average range of 2,500km. It was developed in late 1990s being offered for export markets (Israel, Greece, India and the European Union) but no sale has been confirmed. The Antei-2500 retains the basic characteristics of S-300V/2 anti-ballistic missile (ABM) defense system. It can detect targets as far as 350 kilometers and ballistic missiles warheads traveling at 4,500 meters per second (Mach 13) within 3 seconds. Russian sources claim that Antei-2500 can engage up to 16 ballistic targets at the same time.
Mari kita hitung :
SetUp Time : 5 menit = 5 x 60 detik = 300 detik
Target Max Speed 4500 mps = 4500 meter per second = 4500 meter per detik
Saat S-300VM itu siap diluncurkan, si target sudah melesat dari tempat pertama kali diketahui sejauh 4500 meter per detik x 300 detik = 1.350.000 meter = 1.350 km.
Coba lihat  apakah radar di atas memenuhi syarat untuk serangan berkecepatan 13 mach (penyerang itu  sudah berada sejauh 1.350 km dari tempat pertama dideteksi) ?
AN/TPS-78 adalah radar 3D yang beroperasi dalam frekuensi S-band (2-4 GHz) dan disebutkan mempunyai jangkauan 240 nautical miles (455km).
455 km lebih pendek dari 1.350 km maka tidak memenuhi syarat untuk deteksi serangan 13 mach.
Radar AN/TPS-77 beroperasi dalam frekuensi L-band (1-2 GHz), mempunyai jangkauan 250 nautical miles (463 km)
463 km lebih pendek dari 1.350 km maka tidak memenuhi syarat untuk deteksi serangn 13 mach.
Sama seperti radar Master-T, radar GM-400 beroperasi pada frekuensi S-band (2-4 GHz) dengan jangkauan 470 km.
470 km lebih pendek dari 1.350 km maka tidak memenuhi syarat untuk deteksi serangan 13 mach.
Wah, ternyata ketiga jenis radar di atas belum memenuhi syarat untuk menghadapi serangan 13 mach ini karena begitu dideteksi maka ketika kita masih sibuk menyiapkan rudal S-300VM untuk menangkis serangan tersebut sudah BUUUMMM !!!!!hancur berantakan negeri ini.
Apakah ada radar lain yang lebih memenuhi syarat ?
Mari kita baca potongan artikel dari  indomiliter.com :
Kohanudnas Operasikan Weibel Portable Radar Posted on 13/01/2015
image011
“Radar portable yang diincar TNI AU ini bersifat mobile dan dapat diangkut dengan mudah oleh pesawat angkut sekelas C-130 Hercules.Radar ini dapat beroperasi di segala cuaca.Moda operasinya dapat melacak terus-menerus suatu kawasan dalam putaran 360 derajat.Jarak pelacakannya antara 550 sampai lebih dari 1000 Km dan pengintaian pada jarak 250 sampai 400 Km. Radar ini juga dilengkapi sistem Tx Synthetic Aperture untuk membuat gambar dari obyek, seperti lanskap dalam tampilan 2D atau 3D, memberikan resolusi spasial yang lebih baik daripada radar konvensional. Radar Weibel juga dilengkapi Rx Digital Multi Beam Phased array.”
Radar Weibel ini bisa melacak lebih dari 1000 km, bisa memakai radar yang ini namun kesulitannya adalah supaya jangkauannya maksimal maka harus ditaruh di perbatasan, namanya di perbatasan maka rawan terkena sabotase dari penyusup di perbatasan, ingatkah anda berita beberapa minggu yang lalu bahwa ada anggota TNI yang senjatanya dicuri sewaktu tidur ?
image012
Juga Radar Weibel tidak bisa menjangkau 1.350 km jadi belum memenuhi syarat untuk deteksi serangan 13 mach.
Jadi perlu radar yang bisa ditempatkan cukup jauh dari perbatasan namun dapat mendeteksi potensi serangan berkecepatan 13 mach dari saat potensi serangan tersebut masih berada di  jarak kira-kira lebih dari 1350 km
Radar manakah itu ? Apakah yang ini ?
Dari AIRFORCE.GOV.AU >> TECHNOLOGY >> SURVEILLANCE, COMMAND AND CONTROL
JINDALEE OPERATIONAL RADAR NETWORK
image014
Australia’s Jindalee Operational Radar Network (JORN) comprises three Over-The-Horizon Radar (OTHR) systems and forms part of a layered surveillance network providing coverage of Australia’s northern approaches.
JORN provides wide area surveillance of Australia’s northern approaches at ranges of 1000 to 3000 km from the radar sites, and is used to conduct air and maritime surveillance in support of Australia’s national surveillance effort.
JORN was designed to detect air targets equivalent in size to a BAE Hawk-127 aircraft or larger, and objects on the surface of the water equivalent in size to an Armidale Class Patrol Boat or larger.
The extent of available JORN coverage and actual system performance is highly variable and principally dependent on the state of the ionosphere, environmental conditions and an object’s size and construction.
image015
The detection by JORN of small wooden vessels is highly improbable, given the typical size, construction and speed of such vessels.
Radar Jindalee Australia dapat menjangkau 1000 sampai 3000 km. Namun mengingat ketakutan mereka terhadap kita maka tidak mungkin Australia memberikan radar ini kepada kita.
Jadi kira-kira yang mana yang jangkauannya 3000 km?
DariWikipedia :

Container (29B6) radar (Russian: 29?6 «?????????») is the new generation of Russian over-the-horizon radar, providing long distance airspace monitoring and ballistic missile detection. The first radar, near Kovylkino, Mordovia, Russia, became operational in December 2013.[1][3][4] Another Container radar is under construction in far east of Russia. Construction planned to be finished in 2018.[5]
Radar is capable to monitor airspace up to 100 km altitude and has range of 3000 km. Radar was developed by NPK NIIDAR, which is also a developer of Voronezh-DM radar. Chief designer was Valentin Strelkin.[1] The price of the system was 10 billion rubles.[6]
image016
Harga Radar Container Over The Horizon ini 10 milyar Rubel dan dikalkulasi menjadi USD 147,79 juta dibulatkan saja menjadi USD 150 juta per satu set radar ini.
Gambar-gambar berikut  ini dari www.bastion-karpenko.ru
image018 image019 image020
Berapa rencana akan diakuisisi jika jadi ?
Dapat bocoran dari Bung Sayaret :
B-Over The Horizon (OTH) RADAR – (xxxxx) ( – RUSIA) : (4 units)
Jadi 4 unit x USD 150 Juta = USD  600 Juta.
Dari defense-studies :
07 FEBRUARI 2012
KRI Nanggala : Makin Canggih dengan Sistem Kendali Senjata Modern
image022
Keunggulan lain KRI Nanggala 402 pasca overhaul adalah kemampuan sonar yang mencapai 24,03 mil (40 km), kemampuan selam hingga 200 meter dengan waktu selama 52 hari, radar yang dilengkapi peta elektronik, hingga komunikasi yang terintegrasi dengan sistem lan. (photo : Audrey)
Penantian panjang melihat kapal selam KRI Nanggala-402 kembali menelusup perairan Indonesia berakhir sudah.Kapal yang pernah dijuluki monster bawah laut karena kemampuan tempurnya ini kembali memperkuat jajaran TNI Angkatan Laut (AL) setelah menjalani perbaikan dan perawatan menyeluruh (overhaul) di Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering, Korea Selatan.
Kemarin kapal tipe U-29 buatan Jerman ini sukses berlabuh di dermaga Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya setelah menempuh perjalanan selama 21 hari.
Keberhasilan overhaul KRI Nanggala-402 tersebut tentu semakin meningkatkan sistem pertahanan Indonesia di wilayah perairan. Kini Indonesia memiliki kapal selam tempur supercanggih yang mampu menjaga kedaulatan hukum dan keamanan laut dari serangan musuh.
Menurut Komandan Satuan Tugas Overhaul KRI Nanggala- 402 Kolonel Tunggul Suropati, ada sejumlah peranti penting yang diperbaiki dan diganti selama kapal berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter ini berada di Korsel, di antaranya sistem kendali senjata, radar, sonar, alat komunikasi, hingga penggantian separuh badan kapal dari haluan sampai buritan.
image023
Sistem manajemen tempur dan operasi digital baru dari Norwegia diterapkan pada KRI Nanggala.Sistem baru KRI Nanggala-402 diterapkan dari teknologi manajemen tempur dan operasi dari Norwegia.Teknologi digital itu memungkinkan komandan kapal mengambil keputusan secara lebih cepat, efisien, dan tepat atas posisi dan kedudukan kapal terhadap sasaran yang dituju. (photo : Antara)
“Sekarang KRI Nanggala- 402 ini sudah berimbang dengan milik negara tetangga, termasuk Australia.Sistem kendali senjata kapal ini sudah canggih.Senjata torpedo pada kapal ini bisa menembak dengan akurat dari jarak yang cukup jauh,” ungkapnya di Markas Koarmatim Surabaya kemarin.
Tunggul menjelaskan, keunggulan lain KRI Nanggala-402 pasca-overhaul adalah kemampuan sonar yang mencapai 24,03 mil (40 km), kemampuan selam hingga 200 meter dengan waktu selama 52 hari, radar yang dilengkapi peta elektronik, hingga komunikasi yang terintegrasi dengan sistem lain. “Jadi meskipun di bawah laut, kapal ini bisa berkomunikasi hingga seluruh dunia,” ungkapnya.
Tunggul menuturkan, banyaknya perbaikan inilah yang memerlukan waktu lama selama overhaul, termasuk biayanya yang cukup tinggi.Untuk keseluruhan perbaikan kapal, negara mengeluarkan biaya hingga USD75 juta.“Tetapi nilai itu sudah sebanding dengan kemampuan yang dimiliki.Bayangkan, KRI Nanggala-402 ini kemampuannya delapan kali dibanding kapal perang biasa,” katanya.
image024
Kapal bernomor lambung 402 ini dilengkap dengan Torpedo yang mampu mengejar kebisingan. Kapal ini juga bisa dilengkap oleh beberapa misil seperti SubExocet, SubHarpoon dan sebagainya (photo : Audrey)
Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Soeparno menyambut gembira sukses overhaul KRI Nanggala-402 tersebut. Dia berharap kapal tersebut mampu menjalankan fungsinya dengan bagus, yakni melakukan infiltrasi, peperangan atas dan bawah air, penyebaran ranjau terbatas, hingga proses evakuasi. “Sudah waktunya kita memiliki kapal selam canggih seperti ini sehingga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap terjaga,” ungkap alumnus Akademi Angkatan Laut 1978 ini.
Jenderal bintang empat kelahiran Surabaya ini menjelaskan, dengan wilayah perairan yang cukup luas, jumlah kapal selam yang dimiliki Indonesia jauh dari cukup.Saat ini baru ada dua kapal selam, yakni KRI Cakra- 401 dan Nanggala-402. “Kami memang sudah memesan kapal selam lagi ke Korsel, tetapi jumlahnya hanya tiga.Padahal minimal kebutuhan kita mencapai 12 unit,” tutur mantan Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat ini.
Menanggapi kebutuhan tersebut, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengaku, DPR akan terus membantu mengupayakan. Kebutuhan alutsista memang mendesak.“Tahun 2012 ini keseluruhan anggaran pertahanan kita adalah Rp72 triliun.Anggaran ini sengaja besar karena sebagian besar alutsista kita rusak,” katanya.(Seputar Indonesia)
Coba catat biaya refurbished nya USD 75 Juta per 1 kapal selam.

Bocoran dari Bung ARTHAS79 May 14, 2015 at 1:27 pm
B-SSK – KILO 636 Class Submarine ( – RUSIA) : (10 units)
10 unit x USD 75 juta = USD 750 juta.
Coba lihat lagi bagian di atas tentang S-300VM ada ditulis :
Unitary Cost: USD$120 million= USD 120 juta per set.
The S-300V weapon system comprises a command post vehicle, an all-around surveillance radar, a sector scanning radar, up to 4 missile guidance radars, and up to 24 launcher (TEL) vehicles.
Jadi 1 set S300VM terdiri dari  24 unit kendaraan peluncur.
Dapat bocoran dari Bung GRUNT May 14, 2015 at 1:25 pm :
B-Long Range Air Defence – S-300VM/SA-12 GLADIATOR ( – RUSIA) : (120 units)
120 unit dibagi 24 unit = 5 set S-300VM
Harga USD 120 juta per set x 5 set = USD 600 Juta
Lalu ada 16 SU-35 yang dipublished akan diambil, harganya antara USD 65 juta – 80 Juta. Saya ambil saja harganya USD 75 Juta per unit SU-35
16 unit SU-35 x USD 75 Juta = USD 1200 Juta
Jadi jika dihitung :
4 unit radar OTH x USD 150 Juta = USD  600 Juta.
5 set S-300VM x USD 120 Juta =  USD 600 Juta.
10 ks kilo refurbished x USD 75 juta = USD 750 Juta
16 unit SU-35 x USD 75 Juta = USD 1200 Juta
Total = 600 + 600 + 750 + 1200 = 3150
Jadi dibutuhkan paling tidak USD 3150 Juta = USD 3,15 milyar
Kemarin ada pinjaman lunak Rusia USD 3 milyar.Tinggal ditambah USD 150 Juta lagi tuh udah kuat udara, darat, laut.
Dan bayangkan jangkauan dari 4 radar OTH ini jika dipasang di 4 titik tertentu di tanah air, maka akan menjangkau seluruh Laut Cina Selatan, Guam, sebagian besar Australia, bahkan sampai Diego Garcia.
Tapi jangan kuatir seluruh radar lain yang jangkauannya pendek tersebut  akan tetap berguna untuk deteksi black flight tetangga.
Burung Hantu sudah, lalu hidung besar ?
Ya, Tukang Ngitung PhD memang hidungnya besar. Dan beberapa hari yang lalu Tukang Ngitung,PhD., menemukan foto selfie.Padahal Tukang Ngitung, PhD., tidak suka selfie, oleh sebab  itu foto itu bukan foto dirinya Tukang Ngitung, PhD.
Jadi ini foto Selfienya siapa ya ?
image026
Hayo ngaku …
Yang Jelas bukan potret dirinya Tukang Ngitung, PhD.
Hehehehe….
Ayo anak-anak, kita nyanyi  lagi !
Matahari terbenam
Hari mulai malam….
Dari Tukang Ngitung, PhD. / JKGR

1 komentar: