Kamis, 31 Oktober 2013

Saatnya Indonesia Bermain Cerdas dan Strategis di Kancah Politik Asia Pasifik


NKRI sudah dikepung rapat oleh neokolim yang hampir sekarat ini: Darwin Australia, Cocos Island, Diego Garcia, Guam, Filipina sampai Singapura.

Saatnya Indonesia Bermain Cerdas dan Strategis di Kancah Politik Asia Pasifik


Ke depan, sistem hegemoni politik-ekonomi berdasar model domestikasi tidak lagi menjadi jaminan berlanjutnya hegemoni. AS harus melihat kenyataan semakin sangarnya China di Asia Pasifik, belum lagi agresifnya Rusia yang mulai bermain-main di Pasifik, termasuk rencananya membuat pangkalan militer di Vietnam. Dan juga jangan lupakan rencana Rusia membuat pangkalan "riset ruang angkasa" di sebuah pulau "Negeri Timur" yang tengah menggeliat bangkit. AS sangat naif dan bodoh jika melihat konstelasi semacam ini, AS masih berpikiran dia sebagai kekuatan unipolar era akhir 1990-an, yang cukup menghegemoni NKRI melalui sistem domestikasi saja.

Kalau Indonesia mau, konflik bisa diledakkan di depan hidung Australia. Sekarang Timor Leste "merapat" ke China, makanya AS dan Australia kebakaran jenggot. China cuma menghormati Indonesia, tinggal menunggu "ijin" dari Indonesia untuk membangun pangkalan di Timles. Kartu "as" ada di tangan NKRI. Jika NKRI ijinkan, Xi Jinping tinggal buat pangkalan langsung menantang pangkalan nekolim AS di Darwin Australia. Maka kita tinggal melihat "pesta kembang api" di Pasifik Selatan. Saatnya NKRI bermain cerdas dan strategis!

Dan Cina baru saja menguji tembak rudal pemburu kapal induk AS, DONGFENG 21-D. Rudal ini mampu mengejar kapal induk AS hingga range 2000 km dan berkecepatan lebih dari 4,5 mach (4,5 kali kecepatan suara). Makanya AS sekarang makin meradang dan megap-megap Mas Arief. Biarkan China saja yg meremukkan AS yang sudah sekarat ini. (GFI)

Penulis Tjokrogeni Ibrahim, Alumni Fakultas Teknik Elektro, Universitas Brawijaya, Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar