Selasa, 07 Oktober 2014

Tantangannya Guncangan Hebat dan Suhu Dingin di Ruangan



 
PALING CANGGIH: KRI Bung Tomo dalam pelayaran menuju Armatim Surabaya setelah menyambut KRI John Lie dan KRI Usman-Harun di Karimunjawa. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Menandai perayaan HUT Ke-69 TNI pagi ini (7/10), jajaran TNI-AL meluncurkan tiga kapal perang RI (KRI) terbaru dan paling canggih. Yakni, KRI Bung Tomo, KRI John Lie, dan KRI Usman-Harun. Wartawan Jawa Pos SURYO EKO PRASETYO dan GUSLAN GUMILANG mendapat kesempatan on board tiga hari di KRI Bung Tomo dalam pelayaran perdananya pekan lalu.
SEDIKITNYA 24 KRI baru memperkuat armada TNI-AL selama sepuluh tahun terakhir. Di antara puluhan kapal perang berbagai tipe dan ukuran itu, tiga kapal mutakhir jenis multi-role light frigate (MRLF) diklaim KSAL Laksamana TNI Marsetio paling canggih bila dibandingkan dengan kapal kombatan yang pernah dioperasikan maupun yang dikoleksi matra laut Merah Putih hingga kini.
”Spesifikasi MRLF sebagai kapal perusak kawal radar yang multiperan anti-kapal atas permukaan, anti peperangan udara, dan anti-kapal selam,” terang Marsetio yang ditemui di sela-sela acara geladi bersih HUT Ke-69 TNI di gedung Candrasa, Mako Armatim, Surabaya, Sabtu (4/10).
Kapal MRLF sangat siap menghadapi siapa pun di medan tempur. Serangan dari kapal lain, dari udara, hingga kapal selam dapat dihadapi. Kapal itu dilengkapi maritime surveillance untuk mengamati posisi lawan-lawannya.
Kemampuan MRLF dinilai Marsetio melebihi empat KRI jenis SIGMA (ship integrated geometrical modularity approach) produksi Belanda 2003. Empat SIGMA itu adalah KRI Sultan Hasanuddin, KRI Diponegoro, KRI Iskandar Muda, dan KRI Frans Kaisiepo. SIGMA merupakan kapal kelas terakhir sebelum kedatangan MRLF. Sebelum itu, TNI-AL mengoperasikan kapal-kapal eks Jerman. Yakni, kelas parchim dan kelas Van Speijk.
Tiga MRLF baru tersebut diseberangkan dari galangan Barrow in Furness, Inggris, dalam dua gelombang. KRI Bung Tomo (TOM) pada awal Agustus 2014, disusul KRI John Lie (JOL) dan KRI Usman-Harun (USH) pada awal September lalu. Untuk persiapan parade persenjataan dalam puncak peringatan HUT Ke-69 TNI di Mako Armatim hari ini, KRI TOM tiba lebih dahulu di pangkalan Armada RI Kawasan Timur (Armatim) pada pertengahan September. KRI TOM perlu waktu tak lebih dari 1,5 bulan untuk melayar dari Inggris ke Surabaya.
Setelah tugas menyeberangkan tuntas, Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan yang menjadi komandan pertama KRI mendapat tugas menyambut kedatangan KRI JOL dan KRI USH. Pelayaran penyambutan dikemas dalam latihan manuver di Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah. KRI TOM berlayar dari Armatim ke Karimunjawa dengan didampingi kapal kelas Van Speijk, yakni KRI Slamet Riyadi (SRI), bertemu KRI JOL dan KRI USH di perairan timur laut Karimunjawa.
KRI JOL dan USH –begitu masuk perairan Indonesia dari seberang Pulau Rondo, Aceh– berlayar ke tenggara dan timur dengan dikawal kapal lain kelas Van Speijk, KRI Oswald Siahaan. Kedua MRLF itu akhirnya bertemu ”saudara”-nya, KRI TOM, di utara laut Karimunjawa Minggu (29/9). Setelah itu, mereka menuju Mako Armatim di Surabaya untuk mengikuti parade persenjataan dalam acara perayaan HUT Ke-69 TNI hari ini.
Tiga kapal MRLF sempat berlatih menembak sasaran Pulau Gundul yang tidak berpenghuni di perairan Karimunjawa. Penembakan menggunakan meriam OTO-Melara 76 mm. Setelah itu, berlanjut latihan berbagai manuver. Formasi pertama berupa baris satu per satu ke belakang. Dilanjutkan berjajar ke samping, formasi panah, dan tombak.
’’Latihan ini menguji semua kemampuan dengan kecepatan tinggi. Kami putar (berbalik 360 derajat) ke kiri, kemudian putar ke kanan. Alhamdulillah tidak ada kendala berarti,’’ tegas Yayan.
Dia mengakui, MRLF secara persenjataan paling lengkap daripada KRI kelas lain. Sebelum mengomandani KRI TOM, Yayan malang melintang di berbagai kapal kombatan. Di antaranya, kelas SIGMA KRI Frans Kaisiepo dan Van Speijk KRI Ahmad Yani. Persenjataan di tiga MRLF itu didesain sama. Kapal-kapal tersebut berdimensi panjang 95 meter dengan lebar 12,7 meter dan tinggi 15,49 meter. Masing-masing dilengkapi sedikitnya lima instalasi persenjataan.
Selain meriam standar OTO-Melara 76 mm, kapal dilengkapi peluncur rudal Exocet MM40 dan senapan pertahanan DS 30B Remsig kaliber 30 mm. Dua senjata khas dari BAE Systems di MRLF itu adalah peluncur misil udara MICA dan peluncur torpedo 324 mm.
’Sistem teknologi peralatan di MRLF ter-computerized dan semua serbasensitif,’’ terang Yayan. Sensitivitas yang dimaksud berupa early warning system.
Teknologi tersebut menggabungkan efektivitas biaya dengan standar aturan angkatan laut dunia. MRLF bisa menjadi kapal siluman yang tak bisa dideteksi radar bagi kapal target. Selain bertebaran closed circuit television (CCTV), sensor di MRLF sangat peka terhadap gangguan seperti asap.
Sistem pengendalian terintegrasi dari anjungan kapal maupun pusat informasi tempur (PIT) secara real time dapat mendeteksi kerusakan. Misalnya, ada sedikit gangguan di sistem mesin maupun peralatan pendukung, sensornya spontan menyala. Sistem tersebut mampu menghasilkan tingkat keselamatan tinggi dengan getaran minimal.
’’Saya bisa memantau semua itu langsung dari ruangan komando ini. Pasukan khusus (di TNI­-AL seperti Satuan Pasukan Katak dan Batalyon Intai Amfibi Korps Marinir maupun Detasemen Jala Mangkara) masuk kapal ini dari pintu mana pun pasti akan ketahuan,’’ ulas alumnus AAL angkatan 38/1993 itu.
Lantaran segala sesuatunya dapat dipantau dari ruang komando, dia bisa mengetahui segala gerak-gerik anak buahnya maupun keberadaan orang asing di kapalnya.
Kapal-kapal tersebut diyakini lebih dari layak menjaga perairan Indonesia. Laju jelajah MRLF bisa mencapai 31 knot (1 knot setara 1,8 kilometer per jam). Kecepatan itu tergolong tinggi untuk kendaraan laut. Kecepatan kapal setara 55,8 kilometer per jam. Hampir sama dengan kecepatan minimal mobil di jalan tol.
Jawa Pos yang mendapat izin dari Panglima Armatim Laksda TNI Sri Mohamad Darojatim untuk mengikuti latihan manuver KRI TOM turut merasakan tantangan yang tidak biasa berada di dalam MRLF. Meski cuaca pagi hingga sore relatif cerah, gelombang laut pada malam sempat membuat kapal terguncang agak keras. Perut bisa terasa mual bagi yang tidak terbiasa menaiki kapal perang berlayar.
”Kencangkan tali penambat helikopter dan peralatan-peralatan sebelum latihan manuver.” Demikian bunyi perintah Yayan kepada kru penerbang Pusat Penerbangan TNI-AL maupun kru kapal yang tergabung dalam satgas KRI TOM. Peringatan perwira menengah senior dengan tiga melati di pundak itu cukup beralasan. Sebab, ketika kapal berputar 360 derajat, kemiringan kapal dilihat dari anjungan bisa mencapai hampir 30 derajat.
Menurut bintara penerangan Dispen Armatim Peltu Era Budi Suganjar, berada di dalam MRLF termasuk lebih tenang daripada berlayar dengan SIGMA. ’’Saya merasakan naik KRI TOM ini seperti di kapal kelas Van Speijk dan lebih smooth dibanding berada di dalam SIGMA,’’ jelas Ganjar.
Berdasar gambar dimensi MRLF, kapal tersebut dilengkapi properti semacam sirip ikan di kanan kiri lunas yang berfungsi sebagai penyeimbang.
Tantangan lainnya, para penumpang harus siap menghadapi temperatur udara di dalam ruang kapal yang rata-rata 20 derajat Celsius. Suhu udara dalam kapal yang masih kinyis-kinyis itu termasuk dingin. Ruang tidur di geladak X yang disiapkan untuk ABK terasa lebih dingin daripada suhu di ruang lain. Meski begitu, penumpang bisa menghangatkan tubuh di ruang dapur.
’’Saya tidak menyangka di sini lebih dingin daripada pengalaman saya berlayar di KRI Sultan Hasanuddin,’’ komentar Ahmad Taufik, staf khusus Badan Intelijen Negara, yang turut dalam tim dokumentasi satgas itu. (www.jawapos.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar