Kamis, 08 Januari 2015

Plus Minus Rudal Hipersonik



 
Rudal Hipersonik SR-71 Lockheed Martin
Rudal Hipersonik SR-71 Lockheed Martin
Pengembangan rudal hipersonik yang dilakukan beberapa negara, menjadi pembahasan serius akhir-akhir ini. Senjata hypersonic akan mendobrak stabilitas militer dan memicu perlombaan senjata, masuk ke ruang yang tidak terkontrol. Namun tetap saja ada yang berupaya mengembangkan rudal hipersonik.
Rudal hipersonik terbagi dalam dua kategori berbeda. Senjata ini dikenal sebagai boost-glide weapon, yang didorong pada lintasan balistik menggunakan roket konvensional. Rudal ini dapat mencakup jarak yang cukup jauh karena terbang  sangat tinggi, kemudian jatuh kembali ke bumi, untuk mendapatkan kecepatan dan  di ketinggian yang relatif rendah, rudal kembali didorong oleh mesin penggerak, aerodinamis, meluncur dengan kecepatan hipersonik menuju tujuan akhir.

Rudal jelajah hipersonik yang biasanya diluncurkan dengan kecepatan tinggi, menggunakan roket kecil, dan setelah masuk ke bumi, roket didorong oleh pembakaran ram jet supersonik atau scramjet, untuk penerbangan lima kali kecepatan suara (3.800 mil/ jam) atau lebih besar.
Ujicoba yang baru-baru ini gagal dilakukan China dan Amerika adalah jenis rudal hipersonik sistem boost-glide. X-51 Waverider, yang berhasil diuji AS tahun lalu setelah serangkaian kegagalan, adalah contoh dari rudal jelajah scramjet. Kegagalan uji boost-glide mungkin disebabkan oleh masalah dengan roket pendorong daripada  glider hipersonik sendiri. Sistem yang tidak bekerja, menunjukkan bahwa boost-glide maupun rudal jelajah bertenaga hipersonik memerlukan pengujian lebih lanjut.
Cara Kerja Senjata Hipersonik (Dailymail.co.uk)
Cara Kerja Senjata Hipersonik (Dailymail.co.uk)
Ujicoba rudal hipersonic dapat dengan mudah diamati dari luar angkasa dan melalui radar serta pengumpul sinyal intelijen (belum lagi mata-mata manusia). Moratorium/ pengkajian kembali uji rudal ini, bisa membuang hambatan besar dalam pengembangan program hipersonik. Di sisi lain, pelarangan uji permanen terhadap rudal ini akan membuat membuat teknologi rudal hipersonik berjalan di tempat dan tidak akan berhasil. Kita belum tahu pilihan mana yang akan diambil.
Di AS, rudal hipersonik berupaya diwujudkan sebagai metode yang cepat untuk mengirimkan hulu ledak konvensional ketika waktu menjadi sesuatu yang penting.
Salah satu contoh yang sering diberikan adalah kasus menyerang kubu teroris sesegera mungkin, ketika intelijen menunjukkan kesempatan untuk menghancurkan target yang bernilai tinggi. Namun ini baru sebatas teori. Dalam prakteknya, serangan paling sukses dalam operasi kontra-terorisme adalah pasukan/senjata yang diluncurkan tidak dari ribuan kilometer jauhnya, tapi dari dekat, menggunakan pasukan darat, pesawat berawak, atau drone.
Beberapa pendukung yang lebih terbuka, berpendapat bahwa senjata hipersonik harus dikembangkan untuk memberikan kemampuan menyerang target-target militer di wilayah kekuatan militer yang besar.
“Para pendukung mengklaim bahwa penggunaan senjata hipersonik dengan hulu ledak konvensional (atau energi kinetik murni) akan memungkinkan serangan dilakukan di wilayah negara pemilik nuklir tanpa risiko respon nuklir. Namun para pejabat China dan Rusia khawatir senjata hipersonik AS dapat digunakan sebagai serangan senjata nuklir first strike. AS dan China telah memulai program rudal hipersonik mereka sendiri, menunjukkan bahwa, kontrol perlombaan senjata hipersonik skala penuh, mulai dikesampingkan.
Namun ada juga yang berpendapat teknologi rudal hipersonik ini tidak boleh dilarang sepenuhnya, karena perjalanan hypersonik akan ekonomis untuk sarana transportasi masa depan atau untuk peluncuran satelit atau keperluan sipil lainnya.Persoalannya, rudal hipersonik ini, hanya untuk mengangkut beban yang kecil, bukan untuk beban seperti pesawat.
Teknologi rudal hipersonik belum menemukan ruang bagi kepentingan sipil dan bagi negara-negara non-nuklir. Yang jelas, jika senjata ini dikembangkan, akan terjadi perlombaan senjata hipersonik yang akibatnya berkontribusi pada destabilisasi strategis. Tampaknya masuk akal untuk mencari cara untuk mencegah perlombaan ini, dengan larangan pengujian rudal hipersonik.
Tes rudal hipersonik mudah diidentifikasi oleh profil penerbangan mereka, kecepatan, dan panas dan turbulensi yang dihasilkan oleh pesawat hipersonik. Tes AS dilakukan di laut dan dapat diamati oleh China dan Rusia dari perairan internasional.  Tes yang dilakukan China dan Rusia dari daratan dapat diamati oleh AS dari ruang angkasa.
Rudal hipersonik adalah senjata kelas baru yang sebenarnya tidak ada negara yang betul-betul membutuhkannya. senjata ini memiliki potensi merusak kestabilan antar negara negara-negara besar dan berkontribusi pada lomba pembangunan senjata strategis yang mahal dan berbahaya manusia. Meski begitu, Amerika Serikat tidak bisa berharap bahwa dengan mengusulkan larangan ujicoba, maka negara-negara lain akan berbaris untuk meninggalkan rudal hipersonik. Oleh karena itu diharapkan Amerika Serikat menangguhkan uji coba untuk sementara waktu, untuk menunjukkan itikad baik karena berusaha memenuhi kesepakatan larangan internasional pada pengujian hipersonik.
global-strike-force
Jika penundaan yang dilakukan AS tidak memberikan respon positif dari negara-negara lain, Amerika Serikat dapat melanjutkan program-programnya, namun masih mendukung moratorium, sehingga merebut landasan moral yang tinggi.
Namun dengan tidak mengusulkan larangan uji rudal hipersonik karena berpikir negara lain tidak akan mematuhinya, sebuah cara berpikir yang buruk.
Jika Amerika Serikat tidak bersedia melupakan pengujian hipersonik untuk sementara waktu, maka negara lain memiliki setiap alasan untuk bersikap sinis terhadap motif dan niat sebenarnya. Kita tidak tahu motivasi AS dengan rudal hipersonik ini. Tapi sangat yakin bahwa rudal hipersonik tidak akan membantu membuat Amerika untuk lebih kuat atau lebih aman, karena jelas, dari program mereka yang sudah berlangsung, bahwa negara-negara lain tidak akan membiarkan Amerika Serikat untuk mengklaim monopoli atas persenjataan hipersonik.
Niat baik AS itu, bisa menajadi pendorong bagi India dan Rusia untuk membatalkan program ruda;l hypersonic BrahMos 2. AS dan China akan diberi ijin untuk mengembangkan rudal sistem supersonik yang bisa dibandingkan dengan BrahMos 1, namun harus membatalkan program rudal hipersonik mereka.
Salah satu kritik berulang dari program senjata hipersonik adalah pembuatan senjata ini lebih didorong karena unjuk teknologi daripada mission-driven, yaitu Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya tampaknya akan mengembangkan teknologi ini hanya karena mereka bisa. Memang, setiap langkah dalam sejarah perlombaan senjata nuklir, dari bom fisi pertama, senjata termonuklir hinga rudal balistik antarbenua dan yang lainnya, dicatat sejarah lebih karena dorongan berbasis teknologi. Namun program-program yang lebih didorong oleh tujuan tertentu daripada kemampuan dari senjata itu sendiri, sebagian besar telah gagal di tengah jalan.
Saat ini, perlombaan senjata bangkit kembali didorong oleh munculnya senjata teknologi-hipersonik, senjata ruang angkasa, senjata otonom yang dikendalikan robot akan menjadi pendorong jalannya sejarah manusia dan manusia berdaulat untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Larangan pengujian rudal hipersonik menjadi salah satu peluang yang sangat penting dan relatif sederhana untuk mengendalikan masa depan manusia di kaki bumi. (Robert Dsouza / Defencetalk.net)/JKGR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar