Jumat, 20 Maret 2015

JOKOWI’s Shopping List for TNI AL – NAGA ASIA I

Destroyer Sovremenny Class
Destroyer Sovremenny Class
Naga atau Dragon dalam dunia metafisik diidentikkan dengan ular besar dan penguasa laut/air seperti halnya legenda Dragon/Naga di negeri Cina, Timur Tengah dan bahkan Indonesia sendiri mengenal sosok ular berbadan dan berkepala manusia Nyai Roro Kidul sebagai penguasa laut jawa. Pemerintahan Jokowi berkeinginan mewujudkan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia yang Maju dan Mandiri.
Konsep keunggulan geo strategis berbasis kekayaan bahari, yang meliputi eksploitasi Sumber daya alam dan hasil laut termasuk biota laut dan ikan. Sebagai negara Archipelago ternyata Indonesia telah lama terlena dengan kekayaan bahari yang dimilikinya dimana seharusnya dikelola dengan konsep maritim namun malah dikelola dengan konsep kontinen. Ketertinggalan ini dipengaruhi salah satunya dengan gaya penjajahan Belanda yang lebih menekankan perdagangan rempah-rempah dan hasil tambang daratan.
Corvette Steregushchy Class
Corvette Steregushchy Class
image
Tersadar dengan terbatasnya sumber daya penunjang kehidupan yang terbatas di daratan maka negara seperti Cina segera memperkuat militernya bahkan diproyeksikan memiliki 2 kapal induk hingga 2024 untuk merebut sumber daya yang melimpah di laut dan di dasar laut. Kekayaan laut yang paling besar terletak di laut seperti tambang minyak dan pasokan ikan. Negeri tetangga Australia boleh saja memiliki luas daratan dalam satu bagian yang lebih besar dari Indonesia namun tidak kaya akan sumber energi dan sumber alam. Negeri Kangguru itu kini diproyeksikan akan memiliki 4 Amphibious Assault Ship (LHD) Canberra Class hingga 2024 yang akan diperlengkapi dengan helikopter serbu Super Cobra dan pesawat F35 versi maritim.
Frigate Oliver Hazard Perry Class
Frigate Oliver Hazard Perry Class
image
Sadar akan armadanya yang menua dan rumor perebutan laut Cina selatan yang diambang pintu maka tidaklah mungkin melakukan peremajaan alutsista baru semuanya untuk meng-counter gerakan militer negara yang terlibat sengketa. Disamping pembelian/pembuatan kapal baru juga diiringi dengan retrofit kapal lama dan kapal hibah dari negara sahabat. Kapal-kapal produksi galangan dalam negeri sebenarnya cukup mumpuni membuat kapal perang, sebut saja jenis KCR, LST, LPD, FPB, namun tetap saja diperlukan kapal tempur besar yang berkualitas mematikan. Sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki wilayah dengan strata yang berbeda berdasar kedangkalan maka tentunya dipilah menjadi Brown Water Navey, Green Water Navy, dan Blue Water Navy. Penyediaan alutsista untuk ketiga kategori wilayah air/laut yang berbeda tersebut tentunya disesuaikan dengan fungsi dan beban berat kapal.
image
Submarine Kilo Class
Submarine Chang Bogo Class
Submarine Chang Bogo Class
Peristiwa kecelakaan Air Asia QZ8501 yang melibatkan peralatan SAR dari negara sahabat rupanya secara tidak langsung merupakan ajang promosi dari peralatan yang dipakai. Demikian juga dengan peristiwa krisis Ukraina secara tidak langsung juga mempengaruhi belanja alutsista dari produsen Ukraina. Diantara alutsista produk Ukraina yang dimiliki Marinir adalah BTR 4 yang hanya berjumlah 4 unit sementara produk sejenis yang buatan Rusia adalah BTR 82AM.
LCS Klewang Class II
LCS Klewang Class II
Kendaraan Amfibi Angkut Pasukan BTR 80A
Kendaraan Amfibi Angkut Pasukan BTR 80A
Kendaraan Amfibi Angkut Pasukan BTR 82AM
Kendaraan Amfibi Angkut Pasukan BTR 82AM
Pengembangan struktur organisasi TNI khususnya TNI AL yang didalamnya mencakup pembentukan Divisi Marinir di Sorong, pembentukan Armada Timur di Sorong, Armada Tengah di Surabaya, Armada Barat di Jakarta/Teluk Ratai (Lampung) juga menjadi faktor pertimbangan tersendiri dimana diperlukan penambahan jumlah dan jenis alutsista untuk mendukungnya.
Tank Amfibi BMP3F
Tank Amfibi BMP3F
Pesawat Amfibi ShinMaywa SU 2
Pesawat Amfibi ShinMaywa SU 2
Kecepatan proses pencarian dan evakuasi korban kecelakaan di laut khususnya Air Asia QZ8501 dan MH 370 yang belum diketahui keberadaannya hingga saat ini menjadi pertimbangan khusus untuk pengadaan alutsista yang diperlukan untuk operasi SAR di laut dan juga untuk Operasi perburuan kapal selam. Di masa pemerintahan Presiden Jokowi memang belum diproyeksikan Indonesia memiliki Kapal Induk namun untuk menjawab tantangan serangan amfibi dari pihak tetangga selatan melalui pengiriman LHD Canberra Class maka dipandang perlu sebagai efek deteren dan cikal bakal dibentuknya armada kapal induk Indonesia maka dilakukan pembelian Sukhoi SU 33 versi maritim secara terbatas.
Sebagaimana awal pembentukan skadron Sukhoi family yang dimulai dibeli dengan cara pembayaran barter hasil CPO dan karet alam Indonesia maka kali ini pembayaran bisa jadi dengan cara serupa atau pemberian investasi Aluminium, hasil tambang atau pembangunan jalur kereta api.
Pesawat Patroli Maritim P3 Orion
Pesawat Patroli Maritim P3 Orion
CN 235 MPA (Maritime Patrol Aircraft)
CN 235 MPA (Maritime Patrol Aircraft)
C 295 AEW & C
C 295 AEW & C
Sukhoi SU 33
Sukhoi SU 33
Untuk tetap menjamin hidupnya perusahaan strategis negara maka pembelian alutsista tetap diutamakan berasal dari produsen dalam negeri. Thousand Friends Limited Enemy, kalau mau berteman jangan cuma satu, kalau mau berkawan harus saling mau menghargai. Akhir kata semoga clue yang ditampilkan dalam seri visualisasi Jokowi’s Shopping List for TNI dapat merupakan prediksi yang paling mendekati selama masa kepemimpinan Presiden Jokowi. Kami persilahkan untuk memberikan tanggapan yang sopan, santun dan membangun.
Airbus Helicopter ASW AS 565 Panther
Airbus Helicopter ASW AS 565 Panther
Seahawk SH 60
Seahawk SH 60
Diposkan : Ayoeng – Biro Jambi/JKGR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar