Kamis, 05 Maret 2015

Masa Depan Hubungan Korut - Tiongkok

Masalah pemberitaan mengenai Korea Utara (Korut) semakin nyaring terdengar di telinga kita. Negara berpaham Sosialis itu akhir-akhir ini sedang berusaha membuka dialog dengan Korea Selatan, yang sama-sama kita sebut masyarakat Korea. Tidak berkelebihan kalau keinginan berdialog ini terganggu oleh latihan bersama Amerika Serikat dengan Korea Selatan dan peluncuran Rudal Jarak Pendek Korea Utara. Bahkan dengan semakin memanasnya hubungan kedua Korea, muncul pertanyaan, akankah perang nuklir bermula di Semenanjung Korea?


Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un memberikan suaranya dalam pemilihan umum yang digelar Minggu

Pasang-surut hubungan kedua Korea selalu diwarnai sengketa-sengketa perbatasan. Kadang-kadang suasana memanas, tetapi kadang-kadang kembali mendingin. Pada dasarnya Korea Selatan punya hak penuh dalam menentukan sendiri masa depannya dan tidak terlalu bergantung kepada Amerika Serikat maupun Jepang.

Malah Korea Selatan pernah menampik keinginan Amerika Serikat untuk memusnahkan fasilitas nuklir Korea Utara. Hal ini terjadi pada Juni 1994 dan informasi rahasia tersebut terungkap dalam sebuah wawancara mantan Presiden Korea Selatan, Kim Young-Sam dengan sebuah harian independen Han-kyoreh sebagaimana dilansir Kantor Berita AFP, Rabu, 24 Mei 2000.

Dalam wawancaranya dengan harian tersebut, Kim mengatakan bahwa dia berhasil menyelamatkan bencana perang dengan Korea Utara. “Waktu itu situasi betul-betul berbahaya. Pemerintahan Clinton sedang mempersiapkan perang,” ujar Kim.

Menurut Kim, kapal-kapal perang Amerika Serikat juga telah siap untuk membombardir fasilitas-fasilitas nuklir, kira-kira 90 kilometer (56 mil) utara Pyongyang di Yongbyon. Kim waktu itu langsung memperingatkan Duta Besar Amerika Serikat di Seoul, kalau terjadi perang, maka Semenanjung Korea akan bersimbah darah, membunuh sekitar 10 atau 20 juta orang dan sekaligus menghancurkan sendi-sendi perekonomian Korea Selatan.

Saat-saat genting itu, menurut penuturan mantan Presiden Korea Selatan tersebut, dia mengambil inisiatif berbicara dengan Bill Clinton. Saya katakan kepadanya bahwa saya tidak menginginkan terjadinya pertikaian di antara sesama rakyat Korea selama saya masih menjadi presiden. Clinton saat itu mendengarkan dan memahami dengan seksama apa yang saya inginkan dan mengubah pikirannya,” ujar Kim.

Mendengar dan memperhatikan dengan seksama penuturan mantan Presiden Korea Selatan, Kim Young-Sam dengan harian independen Han-kyoreh itu, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Korea Selatan tidak selalu bergantung dan selalu mau didikte Amerika Serikat, meskipun selama ini kedua negara telah menjalin kerja sama di bidang pertahanan.

Itu hanyalah sekedar contoh. Bukan berarti sewaktu-waktu apa saja bisa terjadi. Kita lihat misalnya Irak di Timur Tengah. Tidak seorang pun menyangka, Amerika Serikat di bawah pimpinan Bush membombardir habis-habisan ibu kota Irak, Baghdad. Kemudian pemimpin Irak yang sah berkuasa itu, Saddam Hussein digantung. Akan sama halnya dengan masa depan Semenanjung Korea. Tidak ada yang pasti. Yang pasti itu adalah kepentingan itu sendiri.

Tidak berbeda halnya hubungan antara Vietnam dan Tiongkok, negara yang mendukung penuh Tiongkok  itu. Akhirnya Tiongkok mau juga mengadukan Vietnam ke Perserikatan Bangsa-Bangsa sehubungan sengketa di Laut Tiongkok Selatan. Tidak terkecuali mungkin suatu ketika hubungan Korea Utara memburuk dengan Tiongkok, masalah yang sama bisa juga terjadi terhadap Korea Utara, meski hubungan kedua negara selama ini cukup baik. Sejauh ini Korea Utara adalah negara yang berhubungan baik dengan Rusia dan Tiongkok. Tetapi perkembangan Rusia yang sempat melemah, ketergantungan kepada Tiongkok semakin kuat. Asalkan tidak berseteru dalam hal kepentingan sebagaimana telah mengganggu hubungan Tiongkok-Vietnam. (Kompasiana | Dasman Djamaluddin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar