Senin, 25 Agustus 2014

Suriah siap bekerja sama dengan AS tumpas terorisme



Suriah siap bekerja sama dengan AS tumpas terorisme
Menteri Luar Negeri Suriah Walid Moualem berbicara dalam konferensi pers di Damaskus, Selasa (27/8). Suriah akan tetap menekan dengan upaya militer meskipun banyak serangan asing potensial di wilayahya, Moualem menambahkan serangan apapun akan menimbulkan ketertarikan kelompok pemberontak terkait al-Qaeda. "Upaya militer (pemerintah) tidak akan berhenti di sekitar Damaskus. Jika tujuannya untuk membatasi kemenangan pasukan bersenjata kami, mereka tidak akan berhasil". (REUTERS/ Khaled al-Hariri)
Damaskus (ANTARA News) - Suriah Senin menyatakan siap bekerja sama dengan masyarakat internasional, termasuk Amerika Serikat, untuk menumpas terorisme.


Pernyataan Menteri Luar Negeri Walid Muallimi itu disampaikan saat kelompok Negara Islam menguasai sejumlah wilayah Suriah dan Irak -- tempat Amerika Serikat telah melancarkan serangan udara, lapor AFP.

Negara Islam (yang sebelumnya dikenal dengan nama ISIS) menjadi perhatian internasional dan memicu Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi menangkal kelompok radikal.

"Suriah siap untuk bekerja sama dan berkoordinasi dalam level regional maupun internasional untuk melawan terorisme dan mengimplementasikan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2170," kata Muallim.

Dia mengatakan bahwa Damaskus juga siap bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Inggris -- dua negara yang mendukung gerilyawan Suriah dalam upaya menjungkalkan Presiden Bashar al-Assad.

Namun di sisi lain Muallim mengingatkan bahwa setiap negara yang hendak melancarkan aksi militer di wilayah Suriah harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah untuk menghormati prinsip kedaulatan.

"Setiap pelanggaran kedaulatan Suriah akan dinilai sebagai tindakan agresi," kata dia.

Amerika Serikat mulai melancarkan serangan udara di wilayah Irak pada 8 Agustus lalu untuk menghentikan laju kelompok Negara Islam yang hendak menyerang ibu kota Kurdi, Arbil.

Namun Kepala Staf Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Jenderal Martin Dempsey, mengakui bahwa Negara Islam tidak dapat dikalahkan hanya dengan serangan di Irak.

"Dapatkah mereka dikalahkan saat sebagian dari organisasi itu berada di Suriah? Jawabannya adalah tidak," kata Dempsey.

Di sisi Suriah, Muallim menganggap bahwa serangan udara tak akan cukup untuk mengalahkan Negara Islam.

"Kami menyambut baik upaya untuk menghentikan Negara Islam, namun pertanyaan pentingnya apakah serangan udara cukup untuk menumpas mereka? Saya tidak berpendapat demikian," kata dia.

Menurut Muallim, setiap serangan harus disertai dengan "pemutusan sumber daya terorisme, terutama pendanaan dan persediaan senjata, serta kendali perbatasan dan pembagian informasi intelejen."

Negara Islam saat ini telah menguasai Provinsi Raqa dan Aleppo yang sama-sama terletak di bagian utara Suriah. Bahkan mereka telah merebut pangkalan udara pasukan pemerintah di Tabqa, Raqa, pada Ahad.

Sebanyak 170 tentara Suriah tewas dalam pertempuran memperebutkan pangkalan udara Tabqa pada Ahad. Negara Islam dikabarkan memenggal kepala sejumlah tentara dan memajang mayat mereka di ibu kota Raqa.


antaranews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar